Aku
tak pernah menyangka, kedekatanku dengannya. Waktu telah mengubahnya semuanya
termasuk hatiku padanya. Namun ternyata waktu juga kembali menegaskan
perasaanku padanya. Aku jatuh hati lagi padanya.
Reuni
kecil kembali mempertemukanku setelah hampir 7 tahun tak berkomunikasi. Secara
fisik tak ada yang berubah darinya. Wajahnya masih sama seperti detektif conan
khas dengan kacamatanya. Mungkin ada hal kecil yang berubah dari kami berdua,
kami sama-sama telah lebih dewasa.
Masih
dapat kuingat dengan jelas terakhir kalinya aku berkomunikasi denganya. Kami
bertengkar untuk suatu hal yang tak penting. Bertengkar mungkin sudah menjadi
hobi kami berdua, tapi saat itu benar-benar berbeda. Dia marah karena aku
menyatakan perasaanku padanya. Menurutnya hal itu seharusnya tak kulalukan.
Saat itu aku merasa sangat kecewa. Aku bukan gadis yang dengan mudah menyatakan
perasaan. Butuh ekstra keberanian untuk menyatakan perasaan yang telah lama
kupendam. Aku menyatakan perasaanku bukan berarti untuk dapat memilikinya. Aku
hanya ingin hatiku lega.
Kedekatan
kami sekarang sangat rumit. Dia sudah punya pacar dan aku pun telah
diwanti-wanti oleh orang tuaku agar tidak menikah dengan keturunan sukunya,
belum hobi merokoknya yang sehari bisa dua pack dan gosip kami berdua
yang telah menjalin hubungan sedari SMP. Waktu menjawab semuanya, awal
kedekatanku dengannya kali ini diawali retaknya hubungan asmaranya dengan sang
pacar. Aku bahkan sempat dituding sebagai perebut kekasih orang.
Gosip
kedekatan kami kali ini semakin menjadi-jadi. Bohong jika aku tidak memiliki
hati padanya. Dia bahkan sudah menyatakan perasaannya padaku. Terlalu banyak
permasalahan sehingga aku memilih menjalani hubunganku dengannya sebagai teman.
Kehilangan beberapa kali membuatku takut untuk memulai hubungan lebih dari
seorang teman.
Menjalani hubungan denganya sebagai teman
bukan tanpa masalah. Sikap cemburu kami kadang saling membabi-buta. Masih kuingat
dengan jelas saat dia akhirnya harus mengantar temanku dan aku harus menebeng
pulang dengan lelaki lain saat reunian untuk kedua kalinya. Kami membisu,
memutuskan komunikasi hingga berminggu-minggu dan orang yang telah dewasa
akhirnya menyadari kelakuan kami yang seperti anak kecil itu.
Salah satu alasanku memilih menjadi temannya
ya itu tadi. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi kekasihnya, pasti
hari-hariku akan dipenuhi dengan pertengkaran karena saling mencemburui. Belum
lagi kebiasaanku yang enggan membalas sms/ line/ whatsapp atau pun aplikasi
semacam itu, pasti akan menimbulkan banyak konflik. Aku tidak suka dikekang
begitu pun dia. Selepas dari itu semua, aku rasa aku terlalu banyak memiliki
rahasia.
Bukan
kah jatuh hati itu sederhan? Aku tahu dia sayang aku dan aku pun tahu dia
sayang aku. Selebihnya aku percayakan saja pada Tuhan yang Maha Kuasa dan biar
waktu yang menjawabnya.
***
Aku
terbangun dengan berbagai selang, satu bewarna bening, satu bewarna merah pekat
dan satunya lagi menghubungkan dengan seperangkat alat EKG. Dia berada di
sampingku, memegang tanganku erat.
“Rin, lo sudah sadar?”
“Hai, gue ada dimana?” tanyaku masih
kebingungan.
“Rumah
sakit,” ucapnya mengelus keningku.
Aku
hanya bisa tersenyum lemah. Aku tau dengan pasti ini rumah sakit tapi aku tak
mengenal dengan pasti dimana rumah sakit ini berada.
“Lo
sakit apa, Rin?”
“Sakit
hati dianggurin lo terus,” ucapku berusaha melucu. Aku tahu hari ini akan tiba.
Hari dimana dia akan menanyakan semua hal yang terjadi padaku selama dia tidak
ada di sampingku.
“Rin,
gue serius,” ucapnya menatapku tajam di balik kacamata tebalnya.
Aku
tak mampu menahan air mataku ditanyakan seperti ini. Aku harus jawab apa?
Bukannya semua wanita mempunyai harapan akan mempunyai bayi kecil yang manis?
Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan lelaki yang kelak mengharapkan anak
dariku? Vonisan dokter tentang kanker di rahimku menghancurkan semua harapan
itu.
“Lo
kenapa jadi nangis?” ucapnya kemudian memelukku. Air mataku semakin tumpah ruah
di pelukannya.
“Gue
mungkin saja bisa hidup, tapi gue gak akan bisa punya anak setelah rahim gue
diambil, Dit!”
Dia
melepaskan pelukannnya dan menatapku tajam. “Maksud lo?”
“Gue
kanker rahim, Dit. Gue gadis yang enggak pernah diharapin semua lelaki, Dit…
Gue gadis gak beharga Dit. Jangan mau sama gue, Dit…” ucapku memukul-mukul
dadanya, menyalahkannya tanpa sebab.
“Lo
tahu gak, Rin? Harapan gue yang kesekian adalah bisa menjadi bapak dari
anak-anak lo.. tapi jika itu memang tidak bisa, melihat lo bahagia karena gue
merupakan harapan pertama gue. Gue jatuh hati sama lo berarti gue harus bisa
menerima lo apa adanya kan?”
Aku
kembali memeluknya erat, takut semua yang terjadi hanya mimpi. Takut saat aku
terbangun Dia tidak ada lagi di sampingku. Takut dia tidak bisa menerima
kenyataan dan pergi meninggalkanku. Toh, aku dan dia tidak punya hubungan
khusus selain berteman kan?
***
“Rin, lo sudah sadar?” suaranya menggema di samping telingaku.
Aku
berusaha mengerjapkan mata. Rasanya berat sekali, pemandangan di depanku kabur.
Beberapa menit kemudian aku sudah dapat melihatnya duduk di kursi samping
keranda tempatku tertidur. Aku memandangi ruangan petak bewarna putih dengan
hiasan horden bewarna hujau tepat di belakang dia duduk dan di jendela. Aku
tahu persis ini pasti rumah sakit.
“Gue
kenapa di sini, Dit?” tanyaku padanya.
“Lo
pingsan pas kita di jalan kemarin,” ucapnya membuatku memaksa mengingat-ingat
apa yang telah terjadi.
Pikiranku
kosong, aku hanya mampu mengingat dia bilang dia mau menerimaku apa adanya. Aku
hanya mampu tersenyum pias membalas perkataannya. Melihatnya di sampingku sudah
cukup membuatku tenang.
“Lo,
kanker rahim, Rin? Sejak kapan? Kenapa lo gak pernah bilang sama gue?”
Ada
segurat kebingungan di wajahku, bukan kan dia jelas sudah tahu mengapa aku
seperti ini?
“Dua
tahun yang lalu. Saat lo menghilang dari gue,” jawabku singkat.
“Rahim
lo sudah diangkat, Rin?”ucapnya dengan wajah penasaran.
“Belum,
mungkin sebentar lagi,” ucapku menahan tangis. Kenapa dia menanyakan hal
sesensitif bagiku ini?
“Lo
gak akan bisa punya anak, dong?” tanyanya lagi membuatku dadaku sesak.
“Lo
kenapa sih jadi nanya-nanya kayak gitu? Gue bahkan bukan gak bisa punya anak,
doang. Gue bisa mati kapan aja, Dit!” ucapku membabi-buta. Pertahananku pecah.
Air mataku jatuh tanpa diminta.
Dia
memelukku erat, berusaha menenangkanku.
“Maafin
gue. Maafin gue udah nanya hal-hal kayak gitu. Gue gak ada maksud apa-apa, Rin.
Lo gak apa-apa kan, Rin?” ucapnya sambil mengusap-usap lembut rambutku.
Aku
menganggung pelan menyatakan jawaban dari pertanyaan retorisnya.
“Kita
bakal terus jadi teman kan, Rin?” tanyanya dengan intonasi penekanan pada kata teman.
Kini aku telah dewasa dan aku harus dapat menerima kenyataannya bahwa dia pun
tak mampu menerima seorang gadis yang tidak akan memberi keturunan padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar