Kamis, 17 Oktober 2013

Teman


           Aku tak pernah menyangka, kedekatanku dengannya. Waktu telah mengubahnya semuanya termasuk hatiku padanya. Namun ternyata waktu juga kembali menegaskan perasaanku padanya. Aku jatuh hati lagi padanya.
Reuni kecil kembali mempertemukanku setelah hampir 7 tahun tak berkomunikasi. Secara fisik tak ada yang berubah darinya. Wajahnya masih sama seperti detektif conan khas dengan kacamatanya. Mungkin ada hal kecil yang berubah dari kami berdua, kami sama-sama telah lebih dewasa.
Masih dapat kuingat dengan jelas terakhir kalinya aku berkomunikasi denganya. Kami bertengkar untuk suatu hal yang tak penting. Bertengkar mungkin sudah menjadi hobi kami berdua, tapi saat itu benar-benar berbeda. Dia marah karena aku menyatakan perasaanku padanya. Menurutnya hal itu seharusnya tak kulalukan. Saat itu aku merasa sangat kecewa. Aku bukan gadis yang dengan mudah menyatakan perasaan. Butuh ekstra keberanian untuk menyatakan perasaan yang telah lama kupendam. Aku menyatakan perasaanku bukan berarti untuk dapat memilikinya. Aku hanya ingin hatiku lega.
Kedekatan kami sekarang sangat rumit. Dia sudah punya pacar dan aku pun telah diwanti-wanti oleh orang tuaku agar tidak menikah dengan keturunan sukunya, belum hobi merokoknya yang sehari bisa dua pack dan gosip kami berdua yang telah menjalin hubungan sedari SMP. Waktu menjawab semuanya, awal kedekatanku dengannya kali ini diawali retaknya hubungan asmaranya dengan sang pacar. Aku bahkan sempat dituding sebagai perebut kekasih orang.
Gosip kedekatan kami kali ini semakin menjadi-jadi. Bohong jika aku tidak memiliki hati padanya. Dia bahkan sudah menyatakan perasaannya padaku. Terlalu banyak permasalahan sehingga aku memilih menjalani hubunganku dengannya sebagai teman. Kehilangan beberapa kali membuatku takut untuk memulai hubungan lebih dari seorang teman.
 Menjalani hubungan denganya sebagai teman bukan tanpa masalah. Sikap cemburu kami kadang saling membabi-buta. Masih kuingat dengan jelas saat dia akhirnya harus mengantar temanku dan aku harus menebeng pulang dengan lelaki lain saat reunian untuk kedua kalinya. Kami membisu, memutuskan komunikasi hingga berminggu-minggu dan orang yang telah dewasa akhirnya menyadari kelakuan kami yang seperti anak kecil itu.
 Salah satu alasanku memilih menjadi temannya ya itu tadi. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi kekasihnya, pasti hari-hariku akan dipenuhi dengan pertengkaran karena saling mencemburui. Belum lagi kebiasaanku yang enggan membalas sms/ line/ whatsapp atau pun aplikasi semacam itu, pasti akan menimbulkan banyak konflik. Aku tidak suka dikekang begitu pun dia. Selepas dari itu semua, aku rasa aku terlalu banyak memiliki rahasia.
Bukan kah jatuh hati itu sederhan? Aku tahu dia sayang aku dan aku pun tahu dia sayang aku. Selebihnya aku percayakan saja pada Tuhan yang Maha Kuasa dan biar waktu yang menjawabnya.
***
Aku terbangun dengan berbagai selang, satu bewarna bening, satu bewarna merah pekat dan satunya lagi menghubungkan dengan seperangkat alat EKG. Dia berada di sampingku, memegang tanganku erat.
 “Rin, lo sudah sadar?”
 “Hai, gue ada dimana?” tanyaku masih kebingungan.
“Rumah sakit,” ucapnya mengelus keningku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah. Aku tau dengan pasti ini rumah sakit tapi aku tak mengenal dengan pasti dimana rumah sakit ini berada.
“Lo sakit apa, Rin?”
“Sakit hati dianggurin lo terus,” ucapku berusaha melucu. Aku tahu hari ini akan tiba. Hari dimana dia akan menanyakan semua hal yang terjadi padaku selama dia tidak ada di sampingku.
“Rin, gue serius,” ucapnya menatapku tajam di balik kacamata tebalnya.
Aku tak mampu menahan air mataku ditanyakan seperti ini. Aku harus jawab apa? Bukannya semua wanita mempunyai harapan akan mempunyai bayi kecil yang manis? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan lelaki yang kelak mengharapkan anak dariku? Vonisan dokter tentang kanker di rahimku menghancurkan semua harapan itu.
“Lo kenapa jadi nangis?” ucapnya kemudian memelukku. Air mataku semakin tumpah ruah di pelukannya.
“Gue mungkin saja bisa hidup, tapi gue gak akan bisa punya anak setelah rahim gue diambil, Dit!”
Dia melepaskan pelukannnya dan menatapku tajam. “Maksud lo?”
“Gue kanker rahim, Dit. Gue gadis yang enggak pernah diharapin semua lelaki, Dit… Gue gadis gak beharga Dit. Jangan mau sama gue, Dit…” ucapku memukul-mukul dadanya, menyalahkannya tanpa sebab.
“Lo tahu gak, Rin? Harapan gue yang kesekian adalah bisa menjadi bapak dari anak-anak lo.. tapi jika itu memang tidak bisa, melihat lo bahagia karena gue merupakan harapan pertama gue. Gue jatuh hati sama lo berarti gue harus bisa menerima lo apa adanya kan?”
Aku kembali memeluknya erat, takut semua yang terjadi hanya mimpi. Takut saat aku terbangun Dia tidak ada lagi di sampingku. Takut dia tidak bisa menerima kenyataan dan pergi meninggalkanku. Toh, aku dan dia tidak punya hubungan khusus selain berteman kan?
***
  “Rin, lo sudah sadar?” suaranya menggema di samping telingaku.
Aku berusaha mengerjapkan mata. Rasanya berat sekali, pemandangan di depanku kabur. Beberapa menit kemudian aku sudah dapat melihatnya duduk di kursi samping keranda tempatku tertidur. Aku memandangi ruangan petak bewarna putih dengan hiasan horden bewarna hujau tepat di belakang dia duduk dan di jendela. Aku tahu persis ini pasti rumah sakit.
“Gue kenapa di sini, Dit?” tanyaku padanya.
“Lo pingsan pas kita di jalan kemarin,” ucapnya membuatku memaksa mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
 Pikiranku kosong, aku hanya mampu mengingat dia bilang dia mau menerimaku apa adanya. Aku hanya mampu tersenyum pias membalas perkataannya. Melihatnya di sampingku sudah cukup membuatku tenang.
“Lo, kanker rahim, Rin? Sejak kapan? Kenapa lo gak pernah bilang sama gue?”
 Ada segurat kebingungan di wajahku, bukan kan dia jelas sudah tahu mengapa aku seperti ini?
“Dua tahun yang lalu. Saat lo menghilang dari gue,” jawabku singkat.
“Rahim lo sudah diangkat, Rin?”ucapnya dengan wajah penasaran.
“Belum, mungkin sebentar lagi,” ucapku menahan tangis. Kenapa dia menanyakan hal sesensitif bagiku ini?
“Lo gak akan bisa punya anak, dong?” tanyanya lagi membuatku dadaku sesak.
“Lo kenapa sih jadi nanya-nanya kayak gitu? Gue bahkan bukan gak bisa punya anak, doang. Gue bisa mati kapan aja, Dit!” ucapku membabi-buta. Pertahananku pecah. Air mataku jatuh tanpa diminta.
Dia memelukku erat, berusaha menenangkanku.
“Maafin gue. Maafin gue udah nanya hal-hal kayak gitu. Gue gak ada maksud apa-apa, Rin. Lo gak apa-apa kan, Rin?” ucapnya sambil mengusap-usap lembut rambutku.
Aku menganggung pelan menyatakan jawaban dari pertanyaan retorisnya.
“Kita bakal terus jadi teman kan, Rin?” tanyanya dengan intonasi penekanan pada kata teman. Kini aku telah dewasa dan aku harus dapat menerima kenyataannya bahwa dia pun tak mampu menerima seorang gadis yang tidak akan memberi keturunan padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar