Rabu, 30 Oktober 2013

Hati

Aku berusaha menahan tangis. Jika dilihat jelas sekali hidungku memerah dan mataku berkaca-kaca. Semua orang menatapku. Seolah mencari sesuatu dari kehadiranku hari ini. Aku hanya mampu tersenyum seperti biasanya. Seolah semuanya baik-baik saja.

Semua orang bertanya tentang hubungan kedekatan kami berdua. Semua orang yang bertanya kadang tidak mau mengerti, mereka lebih banyak sekadar ingin tahu tak lebih. Aku pun hanya dapat membalas dengan senyum ketika mereka bertanya.

Bukankan jatuh hati itu adalah sebuah karunia, Tuhan? Lalu mengapa kebanyakan orang-orang tergesa-gesa menyatakan perasaannya? Lalu mengapa kebanyakan orang sibuk memendam luka menahan perasaan? Bukankah jatuh hati itu sebuah perasaan harfiah yang sederhana?

Tentang perasaanku padanya biarlah aku memendam hingga resah tak lagi terbendung, hingga asa akan terlepas. Aku bukan orang yang mudah untuk jatuh hati. Butuh waktu lama untuk mempercayai seseorang singgah terlebih menetap di hatiku. Jadi, jika suatu hari nanti aku mampu mengungkapkan perasaanku padanya hanya ada dua kemungkinan dia telah menjadi pasanganku atau aku telah berani membuang perasaanku padanya.

Benar, jika mereka tanya perasaanku padanya adalah nyata, namun salah jika mereka bertanya kedekatan kami berdua adalah sebuah ikatan. Aku tak perlu sebuah ikatan yang dijelaskan dengan kata-kata ‘berpacaran’. Aku hanya butuh penyataan yang saling menguatkan ketika hati mulai melemah. Hanya sebuah kepastian tidak lebih! Walaupun aku tahu sebuah kepastian hakikatnya hanya ada pada Tuhan.

Aku tahu hubungan kami berdua hanya akan menyakitkan berbagai pihak terlebih seseorang yang menyukai dia dalam diam, sama seperti aku. Sudah itu aku hanya bisa melihat dan membuktikan bahwa doaku pada Tuhan tentangnya lebih kuat dibandingkan orang itu. Aku tahu hubungan kami seperti hubungan tanpa status, teman bukan, pacar pun bukan. Sungguh aku tak bermaksud melakukan hal itu. Aku hanya tak ingin memaksa kekuasaan Tuhan.

Tentang perasaannya padaku, aku tahu persis dia pun memiliki perasaan yang sama. Tapi bukankan perasaan ini lebih indah jika kami sama-sama terdiam dalam sebuah doa? Aku hanya tak ingin keegoisanku, kecemburuanku membabi buta layaknya dia adalah milikku. Padahal jelas sekali dia dan aku hanya sekadar milik Tuhan. Kebersamaanku sekarang dengannya saja sudah cukup membuat hatiku sakit ketika dia berdekatan dengan wanita lain. Padahal aku jelas tahu wanita itu hanya klien dari pekerjaannya. Bagaimana jika dia menjadi milikku saat ini? Aku curiga aku akan selalu bersitegang dengannya untuk hal-hal sepele seperti ini.
Lagi pula bukan kah masalah hati dapat berubah-ubah setiap saat? Bukan kah kami dulu pernah saling menjauh, dipisahkan jarak dan waktu, membenci satu sama lain tanpa sebab dan takdir membuat kami seperti ini sekarang? aku hanya tak ingin suatu saat nanti aku akan kembali membencinya. Aku hanya tak ingin mendahului waktu.

Aku tahu seberapa pun aku ingin memilikinya jika dia bukan milikku maka dia akan pergi menjauh. Seperti saat ini. saat ia memilih kembali kepada pemiliknya yang abadi. Aku hanya mampu mendoakannya dengan ikhlas. Karena itu hari ini di hari pemakamannya. Aku harus mampu menyatakan perasaan hatiku padanya untuk yang pertama dan terakhir kalinya.


Marsya sayang Ridwan. Maafin Marsya tidak pernah mampu menyatakan ini pada Ridwan. Tapi Marsya tahu kok, Tuhan lebih sayang sama Ridwan. Karena itu Marsya minta maaf, karena Marsya harus melepaskan Ridwan.

Kamis, 17 Oktober 2013

Teman


           Aku tak pernah menyangka, kedekatanku dengannya. Waktu telah mengubahnya semuanya termasuk hatiku padanya. Namun ternyata waktu juga kembali menegaskan perasaanku padanya. Aku jatuh hati lagi padanya.
Reuni kecil kembali mempertemukanku setelah hampir 7 tahun tak berkomunikasi. Secara fisik tak ada yang berubah darinya. Wajahnya masih sama seperti detektif conan khas dengan kacamatanya. Mungkin ada hal kecil yang berubah dari kami berdua, kami sama-sama telah lebih dewasa.
Masih dapat kuingat dengan jelas terakhir kalinya aku berkomunikasi denganya. Kami bertengkar untuk suatu hal yang tak penting. Bertengkar mungkin sudah menjadi hobi kami berdua, tapi saat itu benar-benar berbeda. Dia marah karena aku menyatakan perasaanku padanya. Menurutnya hal itu seharusnya tak kulalukan. Saat itu aku merasa sangat kecewa. Aku bukan gadis yang dengan mudah menyatakan perasaan. Butuh ekstra keberanian untuk menyatakan perasaan yang telah lama kupendam. Aku menyatakan perasaanku bukan berarti untuk dapat memilikinya. Aku hanya ingin hatiku lega.
Kedekatan kami sekarang sangat rumit. Dia sudah punya pacar dan aku pun telah diwanti-wanti oleh orang tuaku agar tidak menikah dengan keturunan sukunya, belum hobi merokoknya yang sehari bisa dua pack dan gosip kami berdua yang telah menjalin hubungan sedari SMP. Waktu menjawab semuanya, awal kedekatanku dengannya kali ini diawali retaknya hubungan asmaranya dengan sang pacar. Aku bahkan sempat dituding sebagai perebut kekasih orang.
Gosip kedekatan kami kali ini semakin menjadi-jadi. Bohong jika aku tidak memiliki hati padanya. Dia bahkan sudah menyatakan perasaannya padaku. Terlalu banyak permasalahan sehingga aku memilih menjalani hubunganku dengannya sebagai teman. Kehilangan beberapa kali membuatku takut untuk memulai hubungan lebih dari seorang teman.
 Menjalani hubungan denganya sebagai teman bukan tanpa masalah. Sikap cemburu kami kadang saling membabi-buta. Masih kuingat dengan jelas saat dia akhirnya harus mengantar temanku dan aku harus menebeng pulang dengan lelaki lain saat reunian untuk kedua kalinya. Kami membisu, memutuskan komunikasi hingga berminggu-minggu dan orang yang telah dewasa akhirnya menyadari kelakuan kami yang seperti anak kecil itu.
 Salah satu alasanku memilih menjadi temannya ya itu tadi. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi kekasihnya, pasti hari-hariku akan dipenuhi dengan pertengkaran karena saling mencemburui. Belum lagi kebiasaanku yang enggan membalas sms/ line/ whatsapp atau pun aplikasi semacam itu, pasti akan menimbulkan banyak konflik. Aku tidak suka dikekang begitu pun dia. Selepas dari itu semua, aku rasa aku terlalu banyak memiliki rahasia.
Bukan kah jatuh hati itu sederhan? Aku tahu dia sayang aku dan aku pun tahu dia sayang aku. Selebihnya aku percayakan saja pada Tuhan yang Maha Kuasa dan biar waktu yang menjawabnya.
***
Aku terbangun dengan berbagai selang, satu bewarna bening, satu bewarna merah pekat dan satunya lagi menghubungkan dengan seperangkat alat EKG. Dia berada di sampingku, memegang tanganku erat.
 “Rin, lo sudah sadar?”
 “Hai, gue ada dimana?” tanyaku masih kebingungan.
“Rumah sakit,” ucapnya mengelus keningku.
Aku hanya bisa tersenyum lemah. Aku tau dengan pasti ini rumah sakit tapi aku tak mengenal dengan pasti dimana rumah sakit ini berada.
“Lo sakit apa, Rin?”
“Sakit hati dianggurin lo terus,” ucapku berusaha melucu. Aku tahu hari ini akan tiba. Hari dimana dia akan menanyakan semua hal yang terjadi padaku selama dia tidak ada di sampingku.
“Rin, gue serius,” ucapnya menatapku tajam di balik kacamata tebalnya.
Aku tak mampu menahan air mataku ditanyakan seperti ini. Aku harus jawab apa? Bukannya semua wanita mempunyai harapan akan mempunyai bayi kecil yang manis? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan lelaki yang kelak mengharapkan anak dariku? Vonisan dokter tentang kanker di rahimku menghancurkan semua harapan itu.
“Lo kenapa jadi nangis?” ucapnya kemudian memelukku. Air mataku semakin tumpah ruah di pelukannya.
“Gue mungkin saja bisa hidup, tapi gue gak akan bisa punya anak setelah rahim gue diambil, Dit!”
Dia melepaskan pelukannnya dan menatapku tajam. “Maksud lo?”
“Gue kanker rahim, Dit. Gue gadis yang enggak pernah diharapin semua lelaki, Dit… Gue gadis gak beharga Dit. Jangan mau sama gue, Dit…” ucapku memukul-mukul dadanya, menyalahkannya tanpa sebab.
“Lo tahu gak, Rin? Harapan gue yang kesekian adalah bisa menjadi bapak dari anak-anak lo.. tapi jika itu memang tidak bisa, melihat lo bahagia karena gue merupakan harapan pertama gue. Gue jatuh hati sama lo berarti gue harus bisa menerima lo apa adanya kan?”
Aku kembali memeluknya erat, takut semua yang terjadi hanya mimpi. Takut saat aku terbangun Dia tidak ada lagi di sampingku. Takut dia tidak bisa menerima kenyataan dan pergi meninggalkanku. Toh, aku dan dia tidak punya hubungan khusus selain berteman kan?
***
  “Rin, lo sudah sadar?” suaranya menggema di samping telingaku.
Aku berusaha mengerjapkan mata. Rasanya berat sekali, pemandangan di depanku kabur. Beberapa menit kemudian aku sudah dapat melihatnya duduk di kursi samping keranda tempatku tertidur. Aku memandangi ruangan petak bewarna putih dengan hiasan horden bewarna hujau tepat di belakang dia duduk dan di jendela. Aku tahu persis ini pasti rumah sakit.
“Gue kenapa di sini, Dit?” tanyaku padanya.
“Lo pingsan pas kita di jalan kemarin,” ucapnya membuatku memaksa mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
 Pikiranku kosong, aku hanya mampu mengingat dia bilang dia mau menerimaku apa adanya. Aku hanya mampu tersenyum pias membalas perkataannya. Melihatnya di sampingku sudah cukup membuatku tenang.
“Lo, kanker rahim, Rin? Sejak kapan? Kenapa lo gak pernah bilang sama gue?”
 Ada segurat kebingungan di wajahku, bukan kan dia jelas sudah tahu mengapa aku seperti ini?
“Dua tahun yang lalu. Saat lo menghilang dari gue,” jawabku singkat.
“Rahim lo sudah diangkat, Rin?”ucapnya dengan wajah penasaran.
“Belum, mungkin sebentar lagi,” ucapku menahan tangis. Kenapa dia menanyakan hal sesensitif bagiku ini?
“Lo gak akan bisa punya anak, dong?” tanyanya lagi membuatku dadaku sesak.
“Lo kenapa sih jadi nanya-nanya kayak gitu? Gue bahkan bukan gak bisa punya anak, doang. Gue bisa mati kapan aja, Dit!” ucapku membabi-buta. Pertahananku pecah. Air mataku jatuh tanpa diminta.
Dia memelukku erat, berusaha menenangkanku.
“Maafin gue. Maafin gue udah nanya hal-hal kayak gitu. Gue gak ada maksud apa-apa, Rin. Lo gak apa-apa kan, Rin?” ucapnya sambil mengusap-usap lembut rambutku.
Aku menganggung pelan menyatakan jawaban dari pertanyaan retorisnya.
“Kita bakal terus jadi teman kan, Rin?” tanyanya dengan intonasi penekanan pada kata teman. Kini aku telah dewasa dan aku harus dapat menerima kenyataannya bahwa dia pun tak mampu menerima seorang gadis yang tidak akan memberi keturunan padanya.

Senin, 14 Oktober 2013

Membuatmu Bahagia


Dia memeluk saya dengan pelan di sebuah sofa rumah saya. “Sabar, Bang.” ucapnya berusaha menenangkan saya. Dia adalah mantan teman sekantor saya. 
Pikiran saya suntuk. Saya tak pernah tau apa dosa saya selama ini hingga memiliki nasib yang dikutuk. Saya letih mendengar kamu yang selalu saja meruntuk tentang banyak hal, terutama anak lelakimu. Membanyangkannya membuat saya enggan mengantuk.
            Anak lelaki itu, anak lelaki yang tumbuh dari hasil kasih sayang kita, kini tak lagi saya kenal. Anak lelaki itu tumbuh dengan masa kecil yang gemilang. Anak lelaki itu sangat penurut, baik dan mudah diberi nasehat. Semua berjalan baik-baik saja waktu itu, namun terkadang anak lelaki itu sering menangis ketika pulang sekolah dan mengadu kepada saya karena dijahili temannya.
Terlalu banyak yang berubah ketika ia mulai beranjak remaja hingga saya merasa tak mengenalnya. Anak lelaki itu mulai membangkang. Cerita terakhir yang cukup mengegerkan keluarga dan sekolah adalah ia mengisap ganja. Tampaknya saya tak lagi berarti bagi anak lelaki itu. Tak ada lagi keluh kesah darinya, ia lebih memilih mengadukan keluh-kesahnya pada bayang-banyang narkotika. Berbagai cara telah saya dan kamu lakukan. Nihil. Anak lelaki kita itu lagi-lagi terjerat. Membuat saya mulai letih menjalani kehidupan ini.
            Dia memandang saya tajam. Mata kami saling bertemu. Tak ada kata yang terdengar. Hanya pandangan matanya mampu mengisyaratkan banyak hal. Air mata saya pecah dan saya mulai terenyuh.
            Air mata ini rasanya ingin sekali menetes, tapi saya ini lelaki. Menangis hanya membuat saya semakin lemah di depanmu. Saya bahkan tak tahu lagi, kamu menganggap saya apa sekarang, sedang suara cacianmu kian menusuk.           
“Bagus ya kamu, Mas! Sudah jadi pengangguran bertahun-tahun, ngabisin uang aku dan sekarang mau jual rumah seenaknya. kompromi dulu dong!” suaramu mengiang-ngiang jelas di telinga saya.
Mengenang kalimat itu membuat saya ingin tertawa lebar. Pengangguran. Satu kata singkat yang mampu menaikkan emosiku, menusuk tepat di hati. Ya Tuhan, sudah begitu saya akan kalap. Rasa nyeri menyebar seketika dihina oleh mu seperti itu. Sejurus kemudian kalimat kasar penuh bentakan tanpa pikiran mampu saya keluarkan. Dimana harga diri saya di depanmu?
Saya tahu, saya tahu betul kamu saat inilah yang menjadi penopang keluarga. Kamu pikir saya tak terhina berdiam diri di rumah di saat kamu dan anak-anakmu pergi kerja dan sekolah? Demi Tuhan, saya tengah berusaha tapi nihil. Lalu hal bodoh yang saya lakukan selanjutnya untukmu adalah investasi uang yang dari dulu kita kumpulkanyang berujung pada penipuan. Saya hanya berusaha, berusaha menghasilkan uang untukmu dan anak-anakmu agar setidaknya saya masih berarti bagimu. Salahkah saya? Demi Tuhan, bukan kah dengan jelas dalam ijab-kabul saya berikral untuk membahagiakanmu dan anak-anak kita kelak?
Perlahan wajahnya mendekat pada saya. Dia mengahapus air mata saya. Bibir kehitamannya semakin mendekat. Nafasnya yang memburu mulai dapat saya rasakan dipermukaan pori-pori wajah saya. Wajahmu lagi-lagi terbayang di memori saya. Saya merindukanmu, Din. Bibirnya kini telah merekat erat di bibir saya. Saya terbius.
Saya masih mencintaimu. Terekam dengan jelas saat bahagia kita dulu. Bahkan sebelum anak-anak kita lahir. Bagaimana mungkin saya dengan mudah melupakan hal itu? Coba kamu tanyakan, saya yakin tak ada satu pun yang saya lupakan darimu. Telah lupa kah kamu tentang semua itu? Mengapa akhir-akhir ini pembicaraan kita hanya berakhir dengan lara? Tak satu lagi kah kita?
            Saya mencintaimu. Itulah terkadang yang membuat hati saya hancur, nafas saya sesak karena pada kenyataannya saya hanya mampu untuk menyakitimu. Membuatku membanting tulang untuk kita dan anak-anak kita. Dan saya yang bodoh ini hanya mampu membuatmu terluka. Membuatmu menangis dalam diam, tersenyum dalam dusta. Membuatmu semakin menbenci saya dan membuat saya semakin terasingi.
            Saya tahu bahwa sejak beberapa tahun ini kamu tengah menjalin hubungan dengan seseorang yang kamu sebut Papa. Bisa apa saya? Saya bahkan tak mampu membuatmu bahagia. Melihatmu bemesraan dengan lelaki itu dua hari yang lalu membuat saya hancur. Tapi bukan kah cinta tentang memahami? Jika memang kamu bahagia dengan lelaki itu, saya hanya perlu menunggu sebuah kejujuran darimu. Saya rela melepaskanmu. Bukan kah saya telah berjanji untuk membuatmu bahagia? Itu pun termasuk melihatmu bahagia dengan yang lain kan?
“MAS! KAMU GILA YA!” jantungku berhenti sesaat ketika jeritanmu terdengar nyata.
Saya menghentikan ciuman mesra yang telah terjadi tanpa saya sadari. Saya melihatmu dengan mata kepalamu sendiri menyaksikan saya tengah berciuman. Air matamu jatuh seketika, saya tersadar apa yang baru saja saya lakukan. Saya terbius, terbawa suasana.
“Dini, dengarkan saya dulu..” ucap saya tak ingin kamu salah sangka.
Lepas Mas! Aku jijik! Jadi ini, jadi ini hasil kamu berteman dengan Ryan, selama ini?” ucapmu menuduh saya.
Lagi-lagi saya membuatmu manangis. Saya tahu ini gila. Tapi kejadian ini benar-benar tak terduga! Saya tak sengaja. saya benar-benar hanya mencintaimu seorang. Itu hanya kehilafan saya tadi. Melihatmu tak berhenti menangis membuat saya terluka.
“Kita cerai saja ya,” kata saya terlontar begitu saja. Saya hanya ingin melihatmu bahagia. Saya hanya ingin melihatmu tersenyum, saya hanya tak sanggup lagi membuatmu menangis. Saya hanya ingin menjadi suami terbaik bagimu.


cerita sebelumnya di ---> LUKA