Sabtu, 28 September 2013

LUKA


Aku terbangun, di sebuah ruangan putih, bertirai hijau. Di tangan kananku ada jarum infus. Sebagian wajahku tertutup peralatan medis. Rumah sakit? Di samping tempatku berbaring, duduk terlelap lelaki yang telah menemaniku berpuluh-puluh tahun lamanya, suamiku. Dia tampak tua, keriput di wajahnya mulai tampak.
Aku berusaha mengingat-ingat yang terjadi. “Andin? Andin dimana?” jeritku tiba-tiba saat mulai mengingat apa yang telah terjadi. suamiku terbangun melihatku yang menjerit panik.
***
Dia masih saja menangis sejak berjam-jam yang lalu. Suaranya semakin lama semakin mengecil. Aku tak tahu apakah air matanya masih menetes atau tidak. Dia hanya menutup mukanya, bersender pada sebuah sofa dan pundaknya masih saja bergetar menandakan ia belum berhenti menangis.
            Aku tau persis apa yang membuatnya menangis seperti itu, saat ini. Pengkhianatan! Ya pengkhianatan ini, akhirnya dia ketahui. Aku tak pernah tahu melihatnya menangis membuat dadaku terasa sesak. Ini terasa lebih menyakitkan dibanding saat aku divonis kanker paru-paru karena suamiku perokok.
            Aku berada di depannya, menatapnya kelu. Hati ini teriris tajam melihatnya menangis. Sungguh aku tak pernah bermaksud untuk menyakiti hatinya. Aku hanya berusaha menyenangkan diriku sendiri di detik-detik terakhirku. Aku hanya berusaha menganggap semua baik-baik saja mengenai semua hal yang terjadi pada diriku. Apa aku salah?
            Apa yang seharusnya aku lakukan? Ya, Tuhan salah apa aku selama ini? Mengapa kau membuatku mengalami hari-hari yang pedih? Salah kah aku memiliki rasa bahagia sedikit saja?
            “Kalau memang ibu bahagia,” ucapnya mengagetkanku.
Dia membuka wajahnya yang sedari tadi ditutupinya. Wajahnya sangat kacau. Air keluar dari kelopak mata dan batang hidungnya. Menimbulkan bekas merah di setiap sudutnya.  Air mata yang sedari tadi kutahan pecah juga. Rasanya ingin sekali aku membalas ucapannya, tapi nafas ini sesak.
            “Kalau memang ibu bahagia…., ishh, Andin tau, ibu kecewa sama ayah yang tiba-tiba jadi pengangguran, ishh, ibu kecewa karena ayah membuat ibu sakit kanker paru-paru, ishh, ibu kecewa karena ayah suka bertengkar dengan kakak dan kakak terlibat narkotika, ishh. Andin tau bagaimana rumah kita sudah seperti neraka jahanam…..,”
            Dia meracau panjang lebar sambil menahan tangis. Dia bahkan tak menatapku. Dia hanya terpaku pada satu titik. Melihatnya seperti itu membuat hatiku hancur. Perkataannya satu persatu menusuk ulu hatiku. Membuatku sulit bernafas. Sakit!
            “Bu, kalau semua itu membuat ibu sakit, membuat ibu membutuhkan tumpuan hidup pada lelaki lain, bagaimana dengan Andin bu?” ucapnya memukul-mukul kencang dadanya. “Hati Andin sakit bu! Ishhh, menerima kenyataan punya ayah yang tidak bekerja, punya kakak yang suka bertengkar dengan ayah, punya ibu yang divonis gak akan lama lagi usiannya. Issshhh, apa sekarang Andin juga harus pura-pura bego ngeliat ibu selingkuh? Andin capek bu, ngelihat neraka seperti ini!”
Aku berusaha memeluknya erat, berusaha menghentikan racauannya, berusaha menenangkannya, darah dagingku ini. Dia mendorongku kuat-kuat, membuat kepalaku terantuk disalah sisi sofa. Kesadaranku mulai menghilang.

“Makasih bu, sudah mengenalkan Andin pada neraka, sekarang Andin mau pergi ke neraka!” ucapnya mengiris berkali-kali pergelangan tangannya dengan pisau dapur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar