Aku
terbangun, di sebuah ruangan putih, bertirai hijau. Di tangan kananku ada jarum
infus. Sebagian wajahku tertutup peralatan medis. Rumah sakit? Di samping
tempatku berbaring, duduk terlelap lelaki yang telah menemaniku berpuluh-puluh
tahun lamanya, suamiku. Dia tampak tua, keriput di wajahnya mulai tampak.
Aku
berusaha mengingat-ingat yang terjadi. “Andin? Andin dimana?” jeritku tiba-tiba
saat mulai mengingat apa yang telah terjadi. suamiku terbangun melihatku yang
menjerit panik.
***
Dia
masih saja menangis sejak berjam-jam yang lalu. Suaranya semakin lama semakin
mengecil. Aku tak tahu apakah air matanya masih menetes atau tidak. Dia hanya
menutup mukanya, bersender pada sebuah sofa dan pundaknya masih saja bergetar
menandakan ia belum berhenti menangis.
Aku tau persis apa yang membuatnya
menangis seperti itu, saat ini. Pengkhianatan! Ya pengkhianatan ini, akhirnya
dia ketahui. Aku tak pernah tahu melihatnya menangis membuat dadaku terasa
sesak. Ini terasa lebih menyakitkan dibanding saat aku divonis kanker paru-paru
karena suamiku perokok.
Aku berada di depannya, menatapnya
kelu. Hati ini teriris tajam melihatnya menangis. Sungguh aku tak pernah
bermaksud untuk menyakiti hatinya. Aku hanya berusaha menyenangkan diriku
sendiri di detik-detik terakhirku. Aku hanya berusaha menganggap semua
baik-baik saja mengenai semua hal yang terjadi pada diriku. Apa aku salah?
Apa yang seharusnya aku lakukan? Ya,
Tuhan salah apa aku selama ini? Mengapa kau membuatku mengalami hari-hari yang
pedih? Salah kah aku memiliki rasa bahagia sedikit saja?
“Kalau memang ibu bahagia,” ucapnya
mengagetkanku.
Dia
membuka wajahnya yang sedari tadi ditutupinya. Wajahnya sangat kacau. Air keluar
dari kelopak mata dan batang hidungnya. Menimbulkan bekas merah di setiap
sudutnya. Air mata yang sedari tadi
kutahan pecah juga. Rasanya ingin sekali aku membalas ucapannya, tapi nafas ini
sesak.
“Kalau memang ibu bahagia…., ishh,
Andin tau, ibu kecewa sama ayah yang tiba-tiba jadi pengangguran, ishh, ibu
kecewa karena ayah membuat ibu sakit kanker paru-paru, ishh, ibu kecewa karena ayah
suka bertengkar dengan kakak dan kakak terlibat narkotika, ishh. Andin tau
bagaimana rumah kita sudah seperti neraka jahanam…..,”
Dia meracau panjang lebar sambil menahan tangis. Dia bahkan tak menatapku. Dia hanya
terpaku pada satu titik. Melihatnya seperti itu membuat hatiku hancur. Perkataannya
satu persatu menusuk ulu hatiku. Membuatku sulit bernafas. Sakit!
“Bu, kalau semua itu membuat ibu
sakit, membuat ibu membutuhkan tumpuan hidup pada lelaki lain, bagaimana dengan
Andin bu?” ucapnya memukul-mukul kencang dadanya. “Hati Andin sakit bu! Ishhh, menerima
kenyataan punya ayah yang tidak bekerja, punya kakak yang suka bertengkar
dengan ayah, punya ibu yang divonis gak akan lama lagi usiannya. Issshhh, apa
sekarang Andin juga harus pura-pura bego ngeliat ibu selingkuh? Andin capek bu,
ngelihat neraka seperti ini!”
Aku
berusaha memeluknya erat, berusaha menghentikan racauannya, berusaha
menenangkannya, darah dagingku ini. Dia mendorongku kuat-kuat, membuat kepalaku
terantuk disalah sisi sofa. Kesadaranku mulai menghilang.
“Makasih
bu, sudah mengenalkan Andin pada neraka, sekarang Andin mau pergi ke neraka!”
ucapnya mengiris berkali-kali pergelangan tangannya dengan pisau dapur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar