Dia tersenyum pada
mas-mas yang mengantar minuman ke meja kami, membuat mas-mas yang disenyumi
salah tingkah. Selalu seperti itu saat Dia memulai permainan. Bayak lelaki yang
salah tanggap padanya. Tidak, jangan pikir dia seorang playgirl seperti kebanyak perempuan jaman sekarang. Dia bahkan baru
sekali berpacaran, namun caranya bersikap banyak membuat para lelaki jatuh
hati.
Namanya Wina. Dia tidak
cantik. Matanya bulat penuh dengan proporsi bulu mata yang tipis, hidungnya
tidak mancung, bibirnya tipis, wajahnya tirus dengan warna coklat, rambutnya
hitam legam menjuntai asimetris sepundak, tingginya seperti lelaki kebanyakan.
Tak ada yang sempurna, Dia egois, dia ambisius, dia pemberani, dia keras, tapi
senyumnya dan semua bentuk perhatian kepada orang-orang mampu melumpuhkan
banyak lelaki.
Dia teman saya sejak SMP.
Entah apa yang ada dipikirannya sampai dia bisa dengan gamangnya mengatakan bahwa
ia memang suka mempermainkan hati lelaki. Dia bilang itu seru. Dia bilang itu
mengasikan, menyakinkan dirinya sendiri bahwa dia mampu dicintai oleh lelaki. Dia
hanya mau tahu apakah lelaki yang jadi sasarannya itu pemberani atau pengecut. Saya
tak pernah tau hal apa yang mampu membuatnya melakukan semua itu.
“Eh, kok diem sih? Gue
lagi serius nih!” ucapnya sambil memilin-milin sedotan yang ada di depannya.
Saya salah tingkah.
“Hmm, entah lah. Saya
mulai bosan,” ucap saya mengingat-ingat yang telah terjadi dengan Dini, pacar
saya yang juga teman dekatnya Wina.
Wina hanya memandang saya
meminta penjelasan lebih, percuma saya hanya membeku dipandangi seperti itu.
“Kalau gak cinta, kalau
bosan, kenapa lo dulu mau mencintainya? Kenapa lo mau menyatakan bahwa lo
mencintainya? Kalau bosan kenapa tidak bilang? Kenapa hanya menjauh? Memangnya
dia akan mengerti? Memangnya dia punya kemampuan telepati?” pertanyaannya
bertubi-tubi, satu persatu mulai menyerang hati saya. Membuat beberapa
pengunjung café ini memandang kami.
“Karena saya muak
mendapatkan perhatian dari Dini yang terlalu berlebih, Win! Saya pikir kalau
saya jadi pacarnya Dini akan berubah,” ucap saya memelankan suara agar tidak
menjadi pusat perhatian pengunjung kafe ini.
Wina tertawa, kemudian
membuat tatapan tajam yang mampu melumpuhkan orang yang dipandangnya.
“Kampret ya, Cowo itu!
Dan kebanyakan cewek memang bego kemakan semua kekampretan para cowo!” ucapnya
masih memandang saya.
“Kalau cowo-cowo kampret,
lo berarti termasuk golongan cowo ya, Win?” ucap saya menyeimbangkan perkataan
Wina dengan penyebutan gue-lo juga.
Wina lagi-lagi tertawa.
“Iya mungkin. Hey kok jadi bahas gue sih?”
“Pengen aja. Lo tiba-tiba ngajakin gue
ketemuan malah membahas hubungan gue sama Dini. Disuruh Dini ya?” tanya saya.
“Menurut lo?” tanya Wina
retoris.
Saya hanya mengangkat
kedua bahu saya, menyatakan tidak tahu. Terlalu naif jika berpikir Dini akan
meminta bantuan Wina dan terlalu kejam jika menyangka Wina melakukan semua ini
atas kemauannya sendiri.
Wina mengiris tebal daging
steak yang ia pesan tadi. Kemudian mengunyahnya tanpa jeda. Khas kebanyak
manusia ketika lapar. Seperti itulah Wina ketika makan. Membuat saya tak bisa
menahan tawa ketika makan bersamanya.
“Win, kalau gue nyerah
aja gimana?” ucap saya membuat Wina terbatuk-batuk.
“Hah? Nyerah gimana?”
“Gue putus aja yah, sama
Dini. Gue udah gak kuat. Gue udah gak sanggup nyakitin perasaan Dini, terlebih
perasaan gue. Gue capek menerima segala perhatian Dini yang berlebih,”
Wina menatap saya tajam.
Memastikan semua perkataan yang saya ucapkan itu sungguh-sungguh.
“Gue heran deh sama lo,
Kal, Dini tuh kurang apa sih? Dia baik, dia perhatian. Lo seharusnya bersyukur
dapat perhatian lebih dari dia. Gak semua cowo dapat perhatian khusus kayak
gitu kan?”
“Perhatiannya berlebihan
Win. Gue gak suka. Gue gak bebas,”
Wina menghentikan
aktifitas makannya. Kali ini dia benar-benar memandang saya, “Kal, gue tau
emang Dini berlebihan. Bela-belain nyamperin lo yang lagi KKN di desa antah
berantah sambil bawaain lo cheese cake,
bawaain lo sarapan pas tanding bola, bawaain lo bekel pas di kampus padahal
dulu lo belum jadian sama dia. Gue bahkan gak akan seberani itu kalau jatuh
hati sama cowok. Tapi masa karena hal kayak gitu lo jadi bosen?”
“Win, gak sesederhana itu
Win. Dini gak suka ngeliat gue deket sama cewek lain. Bahkan jelas-jelas dia
ngelarang gue ketemu sama lo!” saya tercekat, takut salah berbicara.
Ya inti dari permasalahan
saya dengan Dini dan inti dari menjauhnya saya dari Dini sebenarnya adalah
Wina. Dini tidak suka saya berdekatan dengan Wina. Dini bilang saya dan Wina
seperti ada chemistry yang tak dapat dipisahkan,
bahkan ketika kami bertiga bersama. Hal ini yang sering kali membuat Dini
uring-uringan dan cemburu. Saya hanya dapat tertawa kecil ketika itu.
“Kalau Dini memang maunya
seperti itu. Kenapa gak lo lakuin aja? Lo tau gak sekarang Dini kayak gimana
keadaannya? Ke luar kamar aja jarang, apa lagi ke kampus. Anak-anak kosan juga
sering denger dia nangis, setiap di ketuk kamarnya dia gak mau ngebuka. Kal,
gue takut Dini kenapa-kenapa Kan!” Wina masih menatap saya, namun kini
pandangannya memelas, memohon pada saya.
Saya menghela nafas
panjang. Saya paling tidak bisa melihat Wina seperti ini. saya sungguh tidak
tega. Rasanya saya ingin sekali memeluknya, menenangkannya.
“Win, saya rasa kamu
sudah paling mengerti tentang keputusan saya kali ini. Saya suka kamu, Win dari
dulu, dari sebelum saya kenal Dini. Saya tidak pernah memaksa kamu untuk jatuh
hati pada saya. Saya bahkan menuruti nasehat kamu untuk jadian dengan Dini. Tapi
tolong kali ini saja, saya ingin melakukan apa yang saya ingin lakukan,”
“Kal! Lo tau kan gue
kayak gimana? Lo tau kan sifat gue? Dan gue gak pernah serius sama lo tentang
perasaan. Kita sudah pernah bahas hal ini kan dulu?” ada sebulir air mata yang
tiba-tiba saja jatuh di pipi Wina.
Saya tak dapat
menebak-nebak apa yang membuat air matanya jatuh. Tentang perasaan saya kah?
Atau tentang perasaannya?
“Win,
untuk kesekian kalinya saya bilang saya gak pernah minta kamu jadi milik saya.
Karena saya tahu jatuh hati itu bukan perihal memiliki tapi perihal memahami.
Saya berusaha memahami apa yang menjadi pilihan kamu dan saya harap kamu juga
bisa memahami pilihan saya.”
“Kal,
gue…………, ” Wina nampak ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya hanya mengantung
di udara tanpa suara, sepertinya keget dengan jawaban saya barusan.
Saya buru-buru memotong
perkataan Wina, “Duapuluh menit sebelum kamu datang ke sini, saya memutuskan
untuk mengakhiri hubungan dengan Dini dan saya lakukan semua lewat telepon. Ini
demi kebaikan Dini, Win. Terutama untuk kebaikan hati saya juga.”
Ada ketakutan tersendiri
mendengar perkataan Wina selanjutnya kalau saja saya tak segera memotong
pembicaraannya. Dua puluh menit yang lalu, Dini membicarakan alasan mengapa dia
tak ingin saya berdekatan dengan Wina. Dini menemukan surat cinta yang saya
berikan pada Wina, jaman SMP dulu. Kata Dini di surat itu ada tambahan tulisan
‘Wina, juga jatuh hati sama kamu, Kal.’
Saya tidak tahu apa yang saya lakukan kali ini benar atau tidak, dan saya pun
tidak tahu apakah saya dan Wina masih dapat berteman besok.