Angin
berhembus perlahan menuju bibir pantai, menyapu sebagian peluh karena sengatan
matahari. Kerudung abu-abu yang ia kenakan ikut berkibar terkena angin, persis
bendera merah putih di atas tiang kapal nelayan. Pandangannya kemudian teralih
pada saya, ia sekilas tersenyum, kemudian kembali asik memandangi birunya
pantai.
Saya
jatuh hati padanya. Mungkin hal itu lah yang tak akan saya sanggup ucapkan.
Bagaimana mungkin bisa saya ungkapkan jika ia terlebih dahulu yang menyatakan.
Dimana ego saya sebagai seorang lelaki? Terlalu banyak waktu yang berlalu
tanpanya. Apakah mungkin Ia masih sama dengan yang dulu?
“Heh,
jelek! Kok ngelamun sih? nanti kesambet ajudan Nyai Roro Kidul loh!” ucapnya
mengagetkan saya. Terlalu!
Banyak
yang berubah darinya, bahkan kata-kata yang sering ia ucapkan dulu terlihat
begitu berbeda. Sekasar apapun ia berbicara saat ini, ia nampak begitu anggun
dan lembut. Mungkin karena kerudung yang sekarang melekat manis di tubuhnya.
“Haduh kalian temu rindu ya?
Pacarannya sengaja ya jauh-jauh dari kita?” goda Agil pada kami berdua.
“Ih, apaan sih, Gil? Mana gue tau
sih Jupri pake ngedeket ke arah gue,” ucapnya asal menyingkat nama saya
seenaknya. “Jupri, lo kok diem aja sih? jelasin dong kalau kita gak ada
apa-apa. Heran deh kenapa sih kita dari jaman SMA sampe sekarang masih aja
digosipin,” tambahnya lagi.
Rasanya ingin sekali menjitak
kepalanya, gemas. Kenapa harus saya yang mejawab? Kenapa tak ia tanyakan saja
pada hatinya yang dulu jatuh kepada saya? Memangnya dulu saya jatuh hati padanya?
Jangan harap! Mana mungkin saya jatuh hati pada gadis manja yang sukanya
ngomel-ngomel dan marah-marah tak jelas pada saya.
“Au nih si Agil ada-ada saja deh!
Kan udah gue bilang kalau si Sukun jadi istri gue udah gue talak lima lah!”
ucap saya menimpali perkataannya.
Saya
terbiasa memanggilnya Sukun kalau ia memanggil saya Jupri. Padahal tak ada
satupun huruf di namanya yang terbaca ‘Sukun’. Namanya Clarisa Humairah.
“Ye,
emang siapa yang bilang lo berdua nikah? Gue bilangnya lo berdua pacaran. Wah,
lo kebelet nikah ya sama Aira?” kata Agil kembali mengoda.
Ia
hanya membalas perkataan Agil dengan mata sinisnya.
“Udah
ah udah, gue takut lah sama kalian berdua. Hahaha. Anak-anak yang lain udah
pada mau cari makan nih. Lo berdua mau di sini aja atau gimana?’ tanya Agil
setengah mengancam. Bagaimanapun juga yang punya mobil kan Agil. Yang membuat
saya dan 3 orang teman lainnya sampai
sini kan juga si Agil.
Kami
berlima kemudian makan di sebuah saung ikan bakar dekat patai. Saya
memandangnya lagi. Terlalu banyak yang berubah, tak ada lagi gaya makan
menggunakan tangan yang diakhiri jilatan-jilatan di semua jarinya. Bagaimana
mungkin saya bisa lupa, hal itu. Ketika ia dengan gamangnya berkata ‘Cara makan yang paling nikmat tuh yang
begini!”. Kini ia terlihat lebih kemayu, menggunakan sepasang garpu dan
sendok. Membuka satu persatu daging ikan gurame yang terselip duri.
“Eh,
Aira pacar lo sekarang siapa?” tanya Windi tiba-tiba.
Ia
yang sedari tadi fokus pada piring makannya, memandang ke arah Wendi. Ia menghela
nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Windi. Membuat hati ini ikut
bergetar. Benarkah ia telah sepenuhnya mencuri hati saya?
“Sempet
deket lebih dari tiga tahun sama teman di kampus. Terus tiba-tiba gue ditinggal
nikah deh. Hahaha. Lucu ya,” tawanya pecah.
Tawa
khas yang selalu ia keluarkan saat sedang mentertawakan dirinya sendiri.
Mungkin ini, satu-satunya yang belum berubah darinya. Mungkin ini adalah
satu-satunya yang membuat saya ingin terus menjaganya. Agar ia tak tersakiti
lagi. Oleh siapapun itu, termasuk saya dulu, yang membiarkannya menyatakan
perasaannya tanpa jawaban dari saya.
“Eh,
ada HP yang getar nih. Punya siapa tuh?” tanya Amel yang duduk di sebelah saya.
Saya
kemudian mengeluarkan hp dari saku celana. Memeriksa sebentar nama dilayar HP
yang terpampang. Ragu, saya memencet tombol hijau dan berjalan sedikit menjauh.
“Halo?
Iya ini Zul juga lagi sama teman-teman SMA. Pulangnya sedikit malam tidak apa-apa
ya? Apa? Oleh-oleh? Boleh, boleh, kamu mau dibawain apa? Oh, oke gampang. Si
Kakak sudah pulang sekolah belum?” ucap saya masih bercakap dengan seseoarang
di sana. Seseorang yang sangat membutuhkan tanggung jawab saya. Hampir 20 menit
saya menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang itu, kemudian saya menutup
telepon.
Hanya
ini, hanya ini yang saya lakukan demi Aira yang tanpa sadar telah saya cintai
sedari dulu. Menjauh. Saya tak ingin membuatnya menertawakan dirinya sekali
lagi. Cukup kali itu, saat ia menyatakan perasaannya pada saya, saat Gita
menyatakan bahwa ia telah mengandung anak saya. Maafkan saya, Aira, mungkin
definisi jatuh hati padamu bagi saya adalah menjauh darimu.
mati aja tuh cowok kayak gitu! #emosi
BalasHapusahahaha, kenapa lo jadi emosi gitu ver? whahahaha.. eh gimana nih bu guru udh selesai belum skripsinya?
Hapusini g ktebak han...endingnya ga kebaca...
BalasHapuskyak beckam yang mau nyetak gol dari titik putih...dengan yakin dia berlari...dan begitu kakinya menyentuh bola...dia kepleset...