Kamis, 14 Februari 2013

Sebuah Proposal Masa Depan


Kamu, hanya mengeluh ketika menatapku. Helaaan nafas sesekali terdengar darimu. Tanganmu bahkan beberapa kali mengacak rambut tanpa sadar. Kamu berusaha tersenyum padaku. Sedang menyemangati dirimu sendiri, mungkin.
            Sesekali pandanganmu teralih padanya. Berusaha mencuri-curi pandang ketika aku lengah. Menimbulkan segenggam cemburu membabibuta dariku. Hei, mengapa kamu berpaling?
            Hei, aku di sini! Menunggumu menggelitik tubuhku dengan menggebu-gebu. Tidakkah kau merindukan hal itu?
            Kali ini kamu hanya diam, sesekali menghela nafas saat menatapku. Ada rasa lemas tak bersemangat saat kita saling bertatapan. Mengapa? Tak mampu kah kau meneruskan kebersamaan yang telah kita jalin, beberapa saat ini?
            Beberapa menit kemudian kamu berpaling dariku, memandanginya lagi. Tak lama kemudian, kamu benar-benar masuk kedunianya. Tak ada lagi keluhan, tak ada lagi helaan nafas yang beberapa menit lalu kulihat, hanya ada senyuman dan tawa lepas darimu.
            Kemana kamu yang selama ini kukenal? Kamu menelantarkanku, melupakanku, mencampakkanku. Mencampakkan? Tidak-tidak bahkan kamu tak mengakhiriku. Kamu membiarkan ku melihat tawa ceriamu dengannya. Rasanya sakit sekali, kamu tau?
            Hai, lihat aku, aku mohon! Lupakan dia. Aku ini masa depanmu. Bersamanya tak dapat membuat melangkah ke depan. Dia hanya sesaat bagimu. Kumohon percaya lah padaku!
            Percuma, kau tetap bergeming. Tak mempedulikanku. Terus terawa-tawa lebar bersamanya. Apa memang aku tak mampu membuatmu tersenyum? Apa jika bersamaku hanya ada keluhan dan helaan nafasmu?
            Sungguh aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kamu sukses nantinya dan aku yakin aku adalah salah satu peluangmu. Dia? Bisa apa dia? Dia mungkin dapat membuatmu tertawa-tawa lepas, tapi itu hanya sesaat. Setelah itu? Apa kamu yakin?
            Hei, aku mohon. Lihatlah aku sekali saja. Ingat janji yang pernah kamu buat sebelumnya. Kamu mengabaikanku berarti secara tak langsung telah mengecewakan orang tuamu kan? Apa kamu tega melakukan itu?
            “Tyo! Kok lo malah nonton running man?! pantesan dari tadi gue denger suara cekikikan dari kamar dari kamar lo, Bukannya lo mesti ngumpulin draft proposal skripsi besok ke Bu Rika? Udah kelar?”
****

*kamar Lia, 140213
*dalam rangka melihat kelakuan yang empunya kamar