Mika menyadari
kejagalan, ia merasa sedari tadi ia dilirik oleh supir angkot kampus yang ia
tumpangi. Ada rasa takut dan curiga meyerbu pertahanannya. Mika melihat
sekeliling, memastikan penumpang lain bukan lah kelompotan supir angkot tersebut.
Mika melihat kaca spion tengah angkot yang ia tumpangi, berusaha memastikan
supir angkot itu bukan orang jahat. Sontak mata Mika dan supir angkot tersebut
saling bertemu. Sekejap kemudian supir angkot tersebut memalingkan wajahnya
berusaha fokus ke depan jalan.
Satu menit berlalu
dan Mika terpaku akan anugerah Sang Kuasa yang terdapat pada supir angkot
tersebut. Mata supir itu nampak berbinar berpadu dengan alis elang miliknya,
hidungnya mancung, bibirnya tipis, kulitnya putih kecoklatan, sedikit kontras
dengan rambut rapihnya yang hitam legam. Tidak ada yang salah dengan supir itu
kecuali pandangan supir itu yang seolah menjelajah ke arah Mika. Mika berusaha
menyakini betul-betul bahwa supir itu bukan orang jahat, apalagi setelah Mika
menemukan sosok Pak Tarman-supir angkot kampus yang biasa ia tumpangi-di
samping supir angkot tersebut.
Mika berusaha
mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyibukkan diri sebelum ia
benar-benar terpikat akan ketampanan si pengendara angkot kampus itu. Satu-persatu
penumpang angkot turun ke fakultasnya masing-masing. Sementara Mika masih di
dalam angkot, menuju pemberhentian akhir, gerbang universitas.
Lagu-lagu Tompi
yang romantis mengalun lembut dari dalam speaker angkot kampus. Mika terbawa
suasana, melirik lagi supir angkot tersebut dari balik spion tengah. Mata
mereka saling beradu, supir itu sekilas ternsenyum, entah untuk siapa. Untuk
penumpang lain yang baru masuk kah? Atau untuknya?
***
Sejak hari itu
Mika sering bertemu dengan supir angkot itu. Tanpa kata, tanpa perkenalan.
Hanya isyarat mata dan senyum dalam diam. Mika merasa aneh dengan dirinya
sendiri, ia merasa jatuh cinta dengan seorang supir angkot yang tak pernah ia
kenal pula siapa namanya. Mika merasa dirinya tak layak untuk memikirkan seorang
supir angkot. Namun tak jarang doa-doa khusuknya pun beralih menjadi doa
panjang agar ia mengetahui siapa supir angkot kampus yang telah mencuri dalam
diam hatinya. Sudah gila kah ia?
***
“Mika lo tau gak?
Ada mahasiswa pindahan dari Aceh loh katanya,” ucap Risa saat makan istirahat
di kampus.
“Oh ya? Tumben?”
jawab Mika malas-malasan. Setahu Mika jarang sekali atau bahkan tidak pernah
ada dalam sejarah kampusnya mahasiswa yang transfer
study ke fakultasnya.
“Iya, dan katanya
lagi dia ganteng banget!” seru Risa mengebu-gebu.
“Wah, bagus dong,”
ucap Mika asal. Mika masih sibuk dengan pikirannya pada supir angkot muda itu
yang sudah jarang terlihat.
***
“Mika, ternyata
bukan mahasiswa baru deh tapi dosen baru. Hehehe,” bisik Risa di telinga Mika,
namun Mika tak bergeming.
Mika masih terpaku
dengan sosok yang ia temukan di depan amphiteater kelas tempatnya kuliah hari
ini, memastikan pengelihatannya belum salah. Seorang lelaki.
“Saya, Fadli dosen
baru di sini. Mohon kerjasamanya,” ujar sosok yang di depan sana. oh ya, siapa
kordinator kelas ini?” tanya lelaki itu lagi.
“Mika pak,” ucap
teman-teman sekelas Mika kompak.
“Mik, maju!”
senggol Risa menyadarkan Mika yang masih terpaku.
Mika maju ke depan
amphiteter dengan canggung.
“Hey, Mika. Apa
kabar? Saya Fadli, senang akhirnya bisa berkenalan denganmu,” sapa lelaki itu
pelan, senyumnya mengembang sama seperti saat Mika lihat dari spion angkot
kampus.
Kemudian Mika merasa, satu doanya pun terjabah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar