Selasa, 31 Juli 2012

Sebuah Nama



Mika menyadari kejagalan, ia merasa sedari tadi ia dilirik oleh supir angkot kampus yang ia tumpangi. Ada rasa takut dan curiga meyerbu pertahanannya. Mika melihat sekeliling, memastikan penumpang lain bukan lah kelompotan supir angkot tersebut. Mika melihat kaca spion tengah angkot yang ia tumpangi, berusaha memastikan supir angkot itu bukan orang jahat. Sontak mata Mika dan supir angkot tersebut saling bertemu. Sekejap kemudian supir angkot tersebut memalingkan wajahnya berusaha fokus ke depan jalan.
Satu menit berlalu dan Mika terpaku akan anugerah Sang Kuasa yang terdapat pada supir angkot tersebut. Mata supir itu nampak berbinar berpadu dengan alis elang miliknya, hidungnya mancung, bibirnya tipis, kulitnya putih kecoklatan, sedikit kontras dengan rambut rapihnya yang hitam legam. Tidak ada yang salah dengan supir itu kecuali pandangan supir itu yang seolah menjelajah ke arah Mika. Mika berusaha menyakini betul-betul bahwa supir itu bukan orang jahat, apalagi setelah Mika menemukan sosok Pak Tarman-supir angkot kampus yang biasa ia tumpangi-di samping supir angkot tersebut.
Mika berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menyibukkan diri sebelum ia benar-benar terpikat akan ketampanan si pengendara angkot kampus itu. Satu-persatu penumpang angkot turun ke fakultasnya masing-masing. Sementara Mika masih di dalam angkot, menuju pemberhentian akhir, gerbang universitas.
Lagu-lagu Tompi yang romantis mengalun lembut dari dalam speaker angkot kampus. Mika terbawa suasana, melirik lagi supir angkot tersebut dari balik spion tengah. Mata mereka saling beradu, supir itu sekilas ternsenyum, entah untuk siapa. Untuk penumpang lain yang baru masuk kah? Atau untuknya?




***
Sejak hari itu Mika sering bertemu dengan supir angkot itu. Tanpa kata, tanpa perkenalan. Hanya isyarat mata dan senyum dalam diam. Mika merasa aneh dengan dirinya sendiri, ia merasa jatuh cinta dengan seorang supir angkot yang tak pernah ia kenal pula siapa namanya. Mika merasa dirinya tak layak untuk memikirkan seorang supir angkot. Namun tak jarang doa-doa khusuknya pun beralih menjadi doa panjang agar ia mengetahui siapa supir angkot kampus yang telah mencuri dalam diam hatinya. Sudah gila kah ia?
***
“Mika lo tau gak? Ada mahasiswa pindahan dari Aceh loh katanya,” ucap Risa saat makan istirahat di kampus.
“Oh ya? Tumben?” jawab Mika malas-malasan. Setahu Mika jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada dalam sejarah kampusnya mahasiswa yang transfer study ke fakultasnya.
“Iya, dan katanya lagi dia ganteng banget!” seru Risa mengebu-gebu.
“Wah, bagus dong,” ucap Mika asal. Mika masih sibuk dengan pikirannya pada supir angkot muda itu yang sudah jarang terlihat.
***
“Mika, ternyata bukan mahasiswa baru deh tapi dosen baru. Hehehe,” bisik Risa di telinga Mika, namun Mika tak bergeming.
Mika masih terpaku dengan sosok yang ia temukan di depan amphiteater kelas tempatnya kuliah hari ini, memastikan pengelihatannya belum salah. Seorang lelaki.
“Saya, Fadli dosen baru di sini. Mohon kerjasamanya,” ujar sosok yang di depan sana. oh ya, siapa kordinator kelas ini?” tanya lelaki itu lagi.
“Mika pak,” ucap teman-teman sekelas Mika kompak.
“Mik, maju!” senggol Risa menyadarkan Mika yang masih terpaku.
Mika maju ke depan amphiteter dengan canggung.
“Hey, Mika. Apa kabar? Saya Fadli, senang akhirnya bisa berkenalan denganmu,” sapa lelaki itu pelan, senyumnya mengembang sama seperti saat Mika lihat dari spion angkot kampus.
Kemudian Mika merasa, satu doanya pun terjabah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar