Minggu, 18 Maret 2012

Cinta Itu Menyembuhkan


            Kekalutan datang ketika Akbar bilang ingin menikah dengaku. Menikah denganku? Berhubungan dekat dengan dia seperti ini saja rasanya hanya sebuah mimpi? Menikah? Kata-kata itu yng terus mengganjal di hatiku. Ya, tuhan, pantas kah diriku yang penuh lumpur hina dengannya yang seputih kapas itu?
            Kekaluatan kadang menjadi sebuah air mata. Sungguh aku bukan wanita baik-baik, kenangan masa buruk berjibaku dengan pikiranku. Aku si wanita jalang penuh dengan kenistaan. Ya, ini bukan hanya sebuah julukan. Aku ini wanita bayaran. Oke, mungkin kini aku ingin berubah sejak mengenal Akbar. Tapi menikah dengannya? Pantas kah aku? Mau kah dia? Ya, tuhan, sungguh tak sepantasnya aku memohon doa padamu. Tapi kini yang bisa kulakukan hanya berdoa.

***
            Pagi ini aku dikejutkan dengan kehadiran sepasang suami istri dengan Akbar di sampingnya. Menghampiri tempat tinggalku. Air mataku jatuh seketika ketika pernyataan Akbar tempo hari menjadi kenyataan. Kini tak ada lagi yang harus kuperbuat kecuali menyatakan kejujuran tentang siapa aku yang sebenarnya.
            “Nduk, kenapa menangis?”  tanya ibu Akbar pelan.

            “Saya, saya, saya rasa saya tak pantas untuk Akbar, bu,” jawabku terbata- bata.

            “Mengapa?” tanya bapak Akbar. 

“……” Sulit sekali untuk mengaku apa yang pernah dilakukan. Apa lagi ini tentang seberapa boroknya dirimu. Aku sungguh tak sanggup untuk mempermalukan diriku sendiri dan menyakiti Akbar serta keluarganya.

            “Apa kah ini masalah keperawananmu? Gunjingan dari teman-teman sekampus?” tanya Akbar tiba-tiba berucap. Sakit rasanya mendengar  tanya dari Akbar seperti ditusuk oleh benda tajam. Aku hanya menggangguk tak berani menjawab.

            “Nduk, ceritakan lah yang sebenarnya. Apapun jawabanmu ibu rasa Akbar akan menerimanya,” ucap ibu Akbar sambil mengelus lembut rambutku, seperti menguatkan ku.

            “Aku bukan perawan, Bar. Aku ini wanita jalang. Ayam kampus. Wanita bayaran,” emosiku keluar. Air mataku jatuh. sakit rasanya seperti menyobek luka yang baru saja akan kering. Setelah ini aku rasa Akbar dan orang tuanya tidak akan sudi pernah mengenalku.

            Lama tak ada suara. Aku tau ini sangat mengecewakan Akbar dan keluarganya. “Bar, jawablah. Utarakan lah keinginanmu yang pernah kau sampaikan sebelumnya pada bapak. Berubah kah setelah mendengar penjelasan darinya?” ucap bapak akbar memecah keheningan.

            “San, aku mencintaimu apa adanya. Aku menyukai kelembutan hatimu. Jika memang kamu bukan gadis baik-baik mana mungkin aku sanggup mencintaimu. Tentangmu yang dulu sudah sejak lama aku ketahui sebelum kita dekat. Jadi mau kah kau menjadi tulang rusukku? Bapak dan ibu telah menyerahkan seluruh keputusanku di tanganku,”

            “Aku…..” aku tak sanggup menjawabnya. Kata-kata Akbar menenangkan, aku hanya dapat melanjutkan dengan anggukan.

            Akbar kemudian memelukku erat.

            Ibu Akbar membisikkan kata – kata lembut yang sekejap seolah dapat menghilangkan luka-luka  dan borok ditubuhku. “Nduk, cinta itu menyembuhkan. Cinta dapat menyembuhkan dari nista dan borok sebanyak apa pun yang kamu punya. Dulu ibu juga sepertimu namun bapaknya Akbar dapat menerima ibu apa adanya. Maka cintailah Akbar sepenuhnya seperti sebuah cinta yang telah menyembuhkanmu.”


Inspirited by merpati biru- Achmad Munif
ikut dalam #FFHore
  

RINDU


“Mungkin gue udah gila, Ren. Tapi mungkin selama ini gue merindukan lo. Mungkin selama ini gue jatuh hati pada lo,” air mata dari Ami tiba – tiba pecah.

Apa yang harus saya katakan sekarang? Harus kah saya menghapus air matanya? Air mata gadis manis yang telah lama saya cintai. Jatuh cinta dan menyatakan cinta kepada seorang gadis bukan lah suatu hal yang mudah bagi seorang  seperti saya. Tapi karena gadis yang bernama Ami ini, saya mampu mengatakan perasaan saya beberapa kali padanya. Selalu dan selalu dia jawab dengan kata 'kita ini lebih cocok berteman , Ren.'

 “Mi, makasih ya udah jujur sama gue. Jujur gue seneng lo ngomong begitu. Gue juga merindukan lo. Sungguh 1 tahun tanpa kabar dari lo bukan suatu hal yang mudah buat gue. Gue juga rindu lo, Mi,” ujar saya akhirnya. Saya tak tau apa yang harus saya lakukan, jadi saya hanya mengeluarkan secarik kertas undangan bewarna merah.

          Ami, menghapus air matanya. Senyumnya terkembang kemudian akan jawaban saya barusan, “Apa ini?” tanyanya menyentuh kertas undangan tersebut.
          “Sebuah, undangan walimah sederhana. Datang lah, Mi,” jawab saya sekenanya tak berani membuat hatinya kembali kacau.

          “Rendi? Ini apa?!”

          “Penikahan gue, Mi. datang lah jika kau berkenan,” ucap saya berhati – hati.
          “Ren, lo bilang lo rindu sama gue! Dulu lo selalu bilang lo jatuh cinta sama gue. Lo bilang lo gak akan bisa berpaling dari gue. Ini gak fair, Ren!” ucapmu kalap seketika. Air matamu kembali jatuh.

          “Kita lebih cocok berteman, Mi,”  ucapku sepelan mungkin tak ingin menyakiti perasaan gadis di depanku ini. Hening. Ami kini menghapus air matanya, menatap mata saya tajam. Mencari bukti bahwa yang saya katakan benar adanya.

Tujuan saya mengajak Ami bertemu hari ini, di taman ini, tempat dulu sering bermain hanya untuk menyerahkan undangan pernikahan kepada Ami. Hanya itu yang ingin saya lakukan. Memang dulu Ami orang pernah saya cintai tapi seiring berjalannya waktu saya belajar bahwa jatuh cinta hanya sekedar belajar tentang waktu. Jujur saya merindukan Ami, tapi rindu dan jatuh cinta itu berbeda kan? Rindu ya hanya sekedar rindu. Tapi saat jatuh cinta secara tak langsung kamu akan merindu kan?