“Oke, gak apa – apa.
sekarang gue bisa move on dengan
tenang, Ka. Makasih udah mau jawab pertanyaan gue,” ucapnya berusaha tersenyum
namun ada sebongkah kaca yang tertahan dibinar matanya.
Aku tak dapat berkata
hanya berusaha tersenyum. Senyum kelu mungkin. Kulihat sekilas ia menggigit
bibirnya.
“Ka, walau lo udah tau
perasaan gue. Gue harap gak akan ada yang berubah ya, Ka dari kita. Kita tetep
temen kan, Ka? Lo gak akan menjauh dari gue kan?” tanya-nya beruntun. Saya
kembali menatap gadis di depan saya itu.
Kala itu saya hanya
bisa mengangguk. Berusaha menahan perasaan yang saya punya. Hari itu tak akan pernah saya lupakan. Ketika sebuah
kejujuran terungkap. Ketika ia menatap mata saya tajam. Ketika ia menyatakan
perasaan, yang tak ia mengerti terhadap saya. Ketika sebuah pernyataan dan
pertanyaan terlontar dari bibir kecilnya. Hati ini melengos. Jantung ini
berdetak lebih kecang. Sungguh tak pernah ada yang berani menyatakan perasaan
kepada saya. Saya pun tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan saya
terhadap orang yang saya cintai.
Pertanyaan
terakhirnya itu kali ini ingin saya tanyakan kembali padanya jika bisa.
Nyatanya bukan saya yang menjauh tapi ia yang mulai menjauh dari saya. Dua
bulan yang lalu, masih dapat saya lihat senyum manisnya, ceriwis tawanya. Tapi
kini bahkan ia mulai tak tersentuh, tak ada kabar tentangnya lagi. Saya sungguh
merindukannya.
Saya
tau, ini memang balasan yang setimpal untuk saya. Dan saya tau, hal yang ia
lakukan saat ini benar. Menjauh dari orang yang menolak perasaan adalah hal
terampuh bagi seorang wanita untuk dapat move
on. Tidak, saya rasa seorang lelaki pun akan melakukan hal yang sama. Walau
ia bilang tak akan ada yang berubah. Walau pun ia bilang tak ingin saya menjauh
darinya tapi untuk menghapus perasaan memang perlu waktu dan jarak.
Nyatanya saya saat ini
merindukannya. Air mata ini masih jatuh untuknya. Lantunan doa pagi ini masih
tentangnya. Saya tau saya jahat. Saya berbohong padanya. Tak pernah sedetik pun
hati ini tak memikirkannya. Saya memang berusaha mengelak perasaan yang saya
punya terhadapnya. Semakin saya mengelak, semakin saya sadar bahwa hati ini
memilihnya.
Saya hanya tak ingin
menyakitinya. Saya hanya tak ingin membuatnya masuk dalam lingkaran
permasalahan hidup saya. Saya tak ingin ia dan calon anaknya kelak mengalami
hal yang sama seperti saya. Cukup saya saja yang menderita HIV. Karena itu
biarlah ia mengetahui bahwa saya tak pernah memiliki perasaan apapun
terhadapnya. Saya hanya ingin ia mendapatkan seseorang yang lebih baik, yang tak
memiliki penyakit seperti saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar