Jumat, 10 Februari 2012

Mungkin Bukan Saya





“Oke, gak apa – apa. sekarang gue bisa move on dengan tenang, Ka. Makasih udah mau jawab pertanyaan gue,” ucapnya berusaha tersenyum namun ada sebongkah kaca yang tertahan dibinar matanya.
Aku tak dapat berkata hanya berusaha tersenyum. Senyum kelu mungkin. Kulihat sekilas ia menggigit bibirnya.
“Ka, walau lo udah tau perasaan gue. Gue harap gak akan ada yang berubah ya, Ka dari kita. Kita tetep temen kan, Ka? Lo gak akan menjauh dari gue kan?” tanya-nya beruntun. Saya kembali menatap gadis di depan saya itu.
Kala itu saya hanya bisa mengangguk. Berusaha menahan perasaan yang saya punya. Hari itu  tak akan pernah saya lupakan. Ketika sebuah kejujuran terungkap. Ketika ia menatap mata saya tajam. Ketika ia menyatakan perasaan, yang tak ia mengerti terhadap saya. Ketika sebuah pernyataan dan pertanyaan terlontar dari bibir kecilnya. Hati ini melengos. Jantung ini berdetak lebih kecang. Sungguh tak pernah ada yang berani menyatakan perasaan kepada saya. Saya pun tak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan saya terhadap orang yang saya cintai.
            Pertanyaan terakhirnya itu kali ini ingin saya tanyakan kembali padanya jika bisa. Nyatanya bukan saya yang menjauh tapi ia yang mulai menjauh dari saya. Dua bulan yang lalu, masih dapat saya lihat senyum manisnya, ceriwis tawanya. Tapi kini bahkan ia mulai tak tersentuh, tak ada kabar tentangnya lagi. Saya sungguh merindukannya.
            Saya tau, ini memang balasan yang setimpal untuk saya. Dan saya tau, hal yang ia lakukan saat ini benar. Menjauh dari orang yang menolak perasaan adalah hal terampuh bagi seorang wanita untuk dapat move on. Tidak, saya rasa seorang lelaki pun akan melakukan hal yang sama. Walau ia bilang tak akan ada yang berubah. Walau pun ia bilang tak ingin saya menjauh darinya tapi untuk menghapus perasaan memang perlu waktu dan jarak.
Nyatanya saya saat ini merindukannya. Air mata ini masih jatuh untuknya. Lantunan doa pagi ini masih tentangnya. Saya tau saya jahat. Saya berbohong padanya. Tak pernah sedetik pun hati ini tak memikirkannya. Saya memang berusaha mengelak perasaan yang saya punya terhadapnya. Semakin saya mengelak, semakin saya sadar bahwa hati ini memilihnya.
Saya hanya tak ingin menyakitinya. Saya hanya tak ingin membuatnya masuk dalam lingkaran permasalahan hidup saya. Saya tak ingin ia dan calon anaknya kelak mengalami hal yang sama seperti saya. Cukup saya saja yang menderita HIV. Karena itu biarlah ia mengetahui bahwa saya tak pernah memiliki perasaan apapun terhadapnya. Saya hanya ingin ia mendapatkan seseorang yang lebih baik, yang tak memiliki penyakit seperti saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar