Kamu memelukku
erat, menyisakan rindu cukup berat. Tak adalagi gempalan lemak saat kamu memelukku.
“Kamu, datang?” tanyamu padaku.
‘Aku
benci kamu!!!’ Itu yang jelas aku utarakan dalam media sosial manapun. Cukup sudah
pengkhianatan yang kamu lakukan padaku. Setiap kuingat hanya ada dahi yang menyerengit,
hidung dan pipi yang memerah serta mata yang sembab di wajahku. Aku benci kamu! Enyah kau dari kenangan masa
laluku!
Butir-butir nasi menempel
dipipimu. Sebagian berserakan di meja makan. Kamu terbatuk-batuk sambil
berusahamenelan makanan. Apa makan di kantin ini juga kamu anggap tak enak?
Masih
teringat dalam kenangan saat kau menghardikku
karena aku tak bisa memasak. Cih,
lagakmu bagai orang yang pintar memasak! Padahal setiap hari kumakan masakanmu rasanya
tak enak. Jika aku tidak bisa memasak mengapa kamu hanya menghardikku dan
mencemoohku? Bukan seharusnya kamu mengajarkanku? Oh ya, aku lupa, kamu juga tak bisa masak.
Kamu terbatuk-batuk
memuntahkan makananmu, mengeluarkan cairan kuning yang membaluri nasi yang
telah lumat.
Aku
mulai membencimu. Tak ada lagi cinta yang kupunya padamu. Semua menguap. Aku juga
masih ingat ketika kamu menyepelekanku dan lebih memilih dia. Bukan kah cinta
harus adil? Lalu mengapa kamu membagi-bagi padanya? Lantas, kau semakin menjauh
dariku, semakin menuju padanya. Kau jadikan
dia sebagai permata dan aku sebagai pembantu yang sering kau suruh-suruh.
Kamu mengelus
tanganku, kemudian memegangku erat. Meminta maaf, matamu mengeluarkan derasnya anak
sungai. Kamu bilang benci Tuhan. Kamu tak ingin mengingat Tuhan.Tuhan jahat dan
tak adil.
Belum
puas kamu mengkhianatiku. kamu pun mulai mengkhianati Tuhan, menyembah setan melalui
sajen. Belum sembuh rasa sakit ini, kau tinggalkan kami. Kabur tanpa izin. Meninggalkan
banyak hutang yang tak pernah aku tahu. Jangan kamu tanya lagi apa aku
menganggapmu ada! Pernah merasa memilikimu adalah kesalahan besarku.
Dia datang bersama
Papah, menangis melihat keadaanmu. Ah, aku benci melihat matamu yang berbinar-binar
melihat mereka hadir. Tak lama hembusan nafasmu tak lagi terdengar.
Bertahun-tahun
menghilang, kutemukan kabar terbaru tentangmu dari orang lain. Menurutmu aku
akan peduli?! Jangan harap! Aku bukan Tuhan yang maha pengampun! Aku benci kamu!
Titik!
Kamu pergi
meninggalkan berbagai pertanyaan dalam benakku. Air mataku tak berhenti
mengalir. Buku harianmu cukup menjelaskan berbagai hal. Betapa kau ingin
mencintaiku. Betapa tak pernah ada pembagian yang tak adil antara aku dan dia. Betapa
kau letih menghadapi kenyataan pahit, kanker tulang yang bersemanyam dalam tubuhmu. Betapa kamu
tak ingin papah tahun hal ini. Betapa kamu ingin mati dan melupakan Tuhan. Betapa
setan terlihat lebih menguatkan dibandingkan Tuhan. Ya, Tuhan, Tolong ampuni
segala dosa mama. Maafkan aku yang pernah membenci mama.