Rabu, 01 Februari 2017

Kamu yang Aku Benci

Kamu memelukku erat, menyisakan rindu cukup berat. Tak adalagi gempalan lemak saat kamu memelukku. “Kamu, datang?”  tanyamu padaku.

‘Aku benci kamu!!!’ Itu yang jelas aku utarakan dalam media sosial manapun. Cukup sudah pengkhianatan yang kamu lakukan padaku. Setiap kuingat hanya ada dahi yang menyerengit, hidung dan pipi yang memerah serta mata yang sembab di wajahku.  Aku benci kamu! Enyah kau dari kenangan masa laluku!

Butir-butir nasi menempel dipipimu. Sebagian berserakan di meja makan. Kamu terbatuk-batuk sambil berusahamenelan makanan. Apa makan di kantin ini juga kamu anggap tak enak?

Masih teringat dalam kenangan saat kau menghardikku  karena aku tak bisa memasak. Cih, lagakmu bagai orang yang pintar memasak! Padahal setiap hari kumakan masakanmu rasanya tak enak. Jika aku tidak bisa memasak mengapa kamu hanya menghardikku dan mencemoohku? Bukan seharusnya kamu mengajarkanku?  Oh ya, aku lupa, kamu juga tak bisa masak.

Kamu terbatuk-batuk memuntahkan makananmu, mengeluarkan cairan kuning yang membaluri nasi yang telah lumat.

Aku mulai membencimu. Tak ada lagi cinta yang kupunya padamu. Semua menguap. Aku juga masih ingat ketika kamu menyepelekanku dan lebih memilih dia. Bukan kah cinta harus adil? Lalu mengapa kamu membagi-bagi padanya? Lantas, kau semakin menjauh dariku, semakin menuju padanya.  Kau jadikan dia sebagai permata dan aku sebagai pembantu yang sering kau suruh-suruh.

Kamu mengelus tanganku, kemudian memegangku erat. Meminta maaf, matamu mengeluarkan derasnya anak sungai. Kamu bilang benci Tuhan. Kamu tak ingin mengingat Tuhan.Tuhan jahat dan tak adil.

Belum puas kamu mengkhianatiku. kamu pun mulai mengkhianati Tuhan, menyembah setan melalui sajen. Belum sembuh rasa sakit ini, kau tinggalkan kami. Kabur tanpa izin. Meninggalkan banyak hutang yang tak pernah aku tahu. Jangan kamu tanya lagi apa aku menganggapmu ada! Pernah merasa memilikimu adalah kesalahan besarku.

Dia datang bersama Papah, menangis melihat keadaanmu. Ah, aku benci melihat matamu yang berbinar-binar melihat mereka hadir. Tak lama hembusan nafasmu tak lagi terdengar.

Bertahun-tahun menghilang, kutemukan kabar terbaru tentangmu dari orang lain. Menurutmu aku akan peduli?! Jangan harap! Aku bukan Tuhan yang maha pengampun! Aku benci kamu! Titik!

Kamu pergi meninggalkan berbagai pertanyaan dalam benakku. Air mataku tak berhenti mengalir. Buku harianmu cukup menjelaskan berbagai hal. Betapa kau ingin mencintaiku. Betapa tak pernah ada pembagian yang tak adil antara aku dan dia. Betapa kau letih menghadapi kenyataan pahit, kanker tulang  yang bersemanyam dalam tubuhmu. Betapa kamu tak ingin papah tahun hal ini. Betapa kamu ingin mati dan melupakan Tuhan. Betapa setan terlihat lebih menguatkan dibandingkan Tuhan. Ya, Tuhan, Tolong ampuni segala dosa mama. Maafkan aku yang pernah membenci mama.