Tak banyak pertemuan yang kurajut bersamamu. Hanya suara pecah
tertahan oleh benturan-benturan sinyal yang tak bersatu yang selalu menemani
kita. Jarak 1365 km memisahkan kita. 334 hari bertahan menyulam mimpi besar
yang ternyata berbeda.
Bersamamu, kulalui canda tawa, serta tangis penuh ketakutan.
Perbedaan kerap kali menghadang, namun jarak memberikan kita ruang untuk saling
memahami. Oh, mungkin juga menyembunyikan perbedaan yang begitu besar. Bukan
lagi soal harta, bukan lagi soal jenjang pendidikan, Tapi soal penyakitku dan
penyakitmu.
Ah, andai saja harga seseorang dapat dibayar dengan uang, akan
kucuri dan kujual emas di atas monas itu, untuk menggenapkan hargamu. Ah, andai
memang seseorang dapat dibayar, dengan harga berapa kau akan menggenapkanku?
Sayangnya, seseorang tak pernah terbayarkan dengan harga semahal apapun, hingga
kadang tak dapat dibedakan mana yang berharga dan tak berharga. Seperti
keperawanan yang terkadang dijual murah oleh seorang gadis kepada kekasihnya.
Permasalahan ini lah yang kerap menjadi perdebatan tanpa akhir oleh kita.
Dibesarkan dengan karakter budaya yang berbeda, kerap kali membuatku
ingin tahu lebih jauh tentangmu. Tentangmu yang selalu dapat bertegur sapa
dengan banyak orang. Tentangmu yang dapat hidup bebas tanpa sibuk memikirkan
pendapat orang lain padamu. Tentangmu yang menghasilkan uang hanya untuk
keluargamu. Tentang kamu yang lupa diri untuk mendapatkanku. Entahlah..
Kamu adalah semacam gula lewat jenuh yang tepapar panas berlebih,
manis awalnya pahit diakhir. Bersamamu, aku belajar untuk menghargai.
Menghargai dirimu dan tentunya menghargai diriku sendiri. Menurutku perasaan
sayang hanya dapat dirasakan dan dibuktikan oleh hati. Menurutmu perasaan
sayang harus dibuktikan dengan hubungan fisik. Ah, ini terlalu berbeda!
Akhirnya, hanya akan ada aku yang selalu luluh padamu. Entah,
guna-guna apa yang kau berikan padamu. Hahaha, aku sampai lupa! Mana mungkin
kamu punya guna-guna, dibesarkan dengan budaya barat. Mungkin hanya aku yang
terlalu gila mencintaimu, atau karena selama ini tidak pernah ada yang
mencintaiku, atau mungkin juga karena tidak pernah ada yang menghargaiku.
334 hari kulalui bersamamu, pertemuan terakhir denganmu,
menyadarkanku bahwa kau juga tak pernah menganggapku berharga. Kau hanya jadikan
aku fantasi untuk memenuhi hasrat biologismu. Aku terlalu trauma menerima noda
yang kau percikan.
Kamu janjikan akan selalu ada untukku. Kamu akan
mempertanggungjawabkan atas semua yang kau lakukan padaku. Tanggung jawab apa
yang akan kau lakukan? Namun kenyataannya aku terlanjur menjadi munafik,
melupakan pembatasku, melupakan kepercayaan diri pada Tuhan sang pencipta,
melupakan tanggung jawabku sebagai anak yang entah dari rahim siapa. Aku
menangis lagi, entah untuk apa. Untukmu atau untuk ibu yang tak pernah kutemui
sejak lahir.
Katamu, aku yang harus mempertanggung jawabkan semua atas usahaku
yang memutuskan untuk berpisah denganmu. Aku cukup bertanggung jawab ketika
kulihat giwang yang dikenakan ibumu, giwang yang sama dengan milikku. Giwang
yang Bunda Arni berikan ketika kumeninggalkan panti asuhan. Giwang yang kata
Bunda Arni adalah satu-satunya peninggalan Ibuku. Karena itu aku harus membunuh
hatiku.
Aku mencintaimu, Kak.