Sabtu, 11 Juni 2016

Sendiri

Prinsip saya, mencintai seseorang harus lah membuatnya bahagia. Hal itu yang saya lakukan padamu, mencintaimu sebesar mungkin. Kamu selalu berkata hal yang paling menakutkan adalah kehilangan orang yang kamu sayang, sehingga saya berusaha selalu ada di dekatmu. Meskipun nyatanya kita terbatas oleh waktu dan jarak.
Masih ingat dulu awal pertemuan kita, dalam sebuah trip singkat. Cinta pada pandangan pertama menghampiri saya. Senyummu yang ayu dan tutur katamu yang lembut, meski dengan setelan yang boyist. Siapa yang sangka rumah kita bahkan masih berada di sebuah kompleks perumahan yang sama. Rasa sayang kemudian perlahan menghampiri saya. Jatuh hati itu tak dapat saya bendung lagi dan hati kita ternyata memiliki perasaan yang sama. Ah sungguh itu pertemuan singkat yang menyenangkan.
Pernah suatu hari, kamu berkata jika ingin membuatmu melupakan seseorang, orang itu harus berbuat jahat kepadamu. Saya pikir kalimat itu tak sengaja kamu lontarkan saat amarahmu meradang, tapi di tengah percapakan kita lewat suara kamu selalu mengulang-ulangnya. Jujur saya tak akan pernah bisa melepasmu. Sungguh saya sangat menyayangimu, persetan dengan jarak dan waktu yang menghadang! Buktinya sudah hampir 1 tahun kita lewati bersama tanpa pertemuan. Pekerjaanmu sebagai perawat di Karimun harus membuat saya melupakan jarak ribuan kilometer dan mengingat bayangmu di setiap doa malam saya. Saya sayang kamu Dila! Sungguh!
Satu kabar darimu sempat membuat saya bahagia, kamu akan pulang ke rumah 1 bulan lagi. Beberapa hari kemudian saya meratapi kabarmu saat itu. Vonisan dokter, saat itu menyatakan  sebuah kanker  telah mengerogoti paru-paru saya, seolah mengingatkan kembali akan jarak dan waktu yang selama ini berusaha tak saya ingat. Saya hanya tak ingin kamu menangis melihat mayat kaku saya saat kepulangan ke kota kelahiran kami.
Ide gila saya adalah memutuskanmu dengan cara yang menyakitkan, hingga tak lagi kamu mengingat saya. Cara yang gila, cara yang cukup membuat saya menjadi lelaki yang paling keji. Saya menakutimu dengan cara menginginkan keperawananmu saat pulang lagi. Awalnya kamu hanya diam, lalu sengaja saya ulang-ulang dalam setiap percakapan hingga kamu lelah dan menyerah. Tak lama kamu meminta untuk mengakhiri hubungan ini. Kamu tak pernah tau, hati saya terluka ketika mengucapkan pertanyaan-pertanyaan itu. Mana mampu saya memintamu melakukan itu sebelum kita menikah?!
Bodohnya, saya lupa hanya Tuhan yang Maha Mengetahui mahluknya. Semua upaya saya lakukan untuk membuatmu melupakan saya. Agar kamu tak terlupa ketika nanti saya harus pergi selamanya.  Namun ternyata Tuhan malah megajarkan saya untuk dapat melupakanmu.
Ah, Tuhan, betapa tragisnya cerita cinta ini? Air mata yang selama ini selalu saya sembunyikan kini terjun deras tak dapat terbendung. Hati saya bagai tersegat lebah mendengar kabar itu. Kabar yang cukup membuat hati saya teriris. Tagline besar di harian koran cukup mengoyak sukma saya, menyisakan puing-puing luka di hati saya.




MELEDAKNYA PESAWAT, PENERBANGAN TANJUNG BALAI KARIMUN MENUJU PEKAN BARU