Prinsip saya, mencintai
seseorang harus lah membuatnya bahagia. Hal itu yang saya lakukan padamu, mencintaimu
sebesar mungkin. Kamu selalu berkata hal yang paling menakutkan adalah kehilangan
orang yang kamu sayang, sehingga saya berusaha selalu ada di dekatmu. Meskipun nyatanya
kita terbatas oleh waktu dan jarak.
Masih ingat dulu
awal pertemuan kita, dalam sebuah trip
singkat. Cinta pada pandangan pertama menghampiri saya. Senyummu yang ayu dan
tutur katamu yang lembut, meski dengan setelan yang boyist. Siapa yang sangka rumah kita bahkan masih berada di sebuah kompleks
perumahan yang sama. Rasa sayang kemudian perlahan menghampiri saya. Jatuh hati
itu tak dapat saya bendung lagi dan hati kita ternyata memiliki perasaan yang
sama. Ah sungguh itu pertemuan singkat yang menyenangkan.
Pernah suatu
hari, kamu berkata jika ingin membuatmu melupakan seseorang, orang itu harus
berbuat jahat kepadamu. Saya pikir kalimat itu tak sengaja kamu lontarkan saat
amarahmu meradang, tapi di tengah percapakan kita lewat suara kamu selalu
mengulang-ulangnya. Jujur saya tak akan pernah bisa melepasmu. Sungguh saya
sangat menyayangimu, persetan dengan jarak dan waktu yang menghadang! Buktinya sudah
hampir 1 tahun kita lewati bersama tanpa pertemuan. Pekerjaanmu sebagai perawat
di Karimun harus membuat saya melupakan jarak ribuan kilometer dan mengingat
bayangmu di setiap doa malam saya. Saya sayang kamu Dila! Sungguh!
Satu kabar darimu
sempat membuat saya bahagia, kamu akan pulang ke rumah 1 bulan lagi. Beberapa hari
kemudian saya meratapi kabarmu saat itu. Vonisan dokter, saat itu menyatakan sebuah kanker telah mengerogoti paru-paru saya, seolah mengingatkan
kembali akan jarak dan waktu yang selama ini berusaha tak saya ingat. Saya hanya
tak ingin kamu menangis melihat mayat kaku saya saat kepulangan ke kota
kelahiran kami.
Ide gila saya
adalah memutuskanmu dengan cara yang menyakitkan, hingga tak lagi kamu
mengingat saya. Cara yang gila, cara yang cukup membuat saya menjadi lelaki
yang paling keji. Saya menakutimu dengan cara menginginkan keperawananmu saat
pulang lagi. Awalnya kamu hanya diam, lalu sengaja saya ulang-ulang dalam
setiap percakapan hingga kamu lelah dan menyerah. Tak lama kamu meminta untuk
mengakhiri hubungan ini. Kamu tak pernah tau, hati saya terluka ketika mengucapkan
pertanyaan-pertanyaan itu. Mana mampu saya memintamu melakukan itu sebelum kita
menikah?!
Bodohnya, saya lupa
hanya Tuhan yang Maha Mengetahui mahluknya. Semua upaya saya lakukan untuk
membuatmu melupakan saya. Agar kamu tak terlupa ketika nanti saya harus pergi
selamanya. Namun ternyata Tuhan malah
megajarkan saya untuk dapat melupakanmu.
Ah, Tuhan,
betapa tragisnya cerita cinta ini? Air mata yang selama ini selalu saya
sembunyikan kini terjun deras tak dapat terbendung. Hati saya bagai tersegat
lebah mendengar kabar itu. Kabar yang cukup membuat hati saya teriris. Tagline besar di harian koran cukup
mengoyak sukma saya, menyisakan puing-puing luka di hati saya.
MELEDAKNYA PESAWAT, PENERBANGAN TANJUNG
BALAI KARIMUN MENUJU PEKAN BARU