Sabtu, 22 November 2014

The Moment That I Miss You



            Lima belas jam yang lalu, ketika dua jam lagi proses perceraian akan dimulai. Aku yang terbiasa memaksa Anila menjadi dewasa sebelum waktunya, kini dipaksa untuk memahami tentang waktu olehnya.

            “Mah, Anila boleh tanya? Kenapa mama dulu mencintai Ayah? Memangnya cinta itu sudah hilang, Mah? Kalau seperti itu berarti waktu adalah bagian terjahat di dunia ini ya, Mah?”

Aku terhenyak tak mampu menjawabnya, mendengarkan pertanyaannya saat itu. Anila adalah buah hatiku, kadang aku lupa usianya tak lebih dari tujuh tahun.

            “Mah, Anila ingin mama bahagia, ingin Ayah bahagia. Bukan kah saat dulu mama mencinta Ayah, mama dan ayah bahagia?”

            Ingatanku kembali ke belasan tahun yang lalu. Saat kubertemu denganmu. Kamu lelaki berwajah manis, sekaligus memiliki sifat aneh dan menyebalkan. Kebetulan kamu ketua kelompok saat ospek jurusan dan yang menyebalkan kamu sering membolos saat ospek, jadilah aku dan kawan-kawan yang kena batunya. Tapi jangan ditanya tentang kecerdasanmu. Indeks prestasi 3,96 mampu kamu raih, di awal perkuliahan.

            Hampir semua teman-teman menyukaimu. Mereka tak pernah tau betapa menyebalkannya dirimu. Betapa kamu selalu mencelaku. Mengkritik semua kekuranganku. Dan aku sangat membenci sifatmu yang itu, sifat yang selalu mengkritik kekuranganku, entah tentang fisikku atau tentang sifatku.
            Kamu adalah satu-satunya patner in crime ku di kampus. Kita sering istirahat bareng, makan malam bareng sampai bolos kuliah pun bareng. Aku selalu kesal sama kamu, tapi kalau diajakin main sama kamu pasti aku mau. Aneh!  

Aku ingat, hari itu adalah hari tergila dalam hidupku. Hari dimana aku mulai menyadari bahwa aku terbiasa denganmu, atau mungkin juga mulai bisa memahami tingkah lakumu yang aneh! Saat itu, setelah makan malam di sebuah kafe, kamu mengajakku taruhan. Aku tentunya menolak keras. Namun ide gilamu mampu membuatku tertawa terbahak-bahak.

            “Kamu, mau gak ambil mic penyanyinya terus nyanyi satu bait aja? Nanti aku kasih uang seratus ribu? Mau gak?”ucapmu menunjuk penyanyi kafe, yang sedang menyanyi disudut depan kafe.
            “Enggak, sableng banget sih kamu!”
            “Ah, payah nih! Hmm, atau enggak kamu wes joget-joget aja di depan satu menit aja, atau 30 detik deh! Nanti aku bayar kamu seratus ribu,” ucapmu semakin gila.
            “Ih, kamu sok kaya banget sih? Mana sini duitnya? Nanti aku lakuin kalau kamu kasih. Gak ada kan? makan hari ini aja minta traktir aku, wek!” ucapku sambil memeletkan lidah, sambil menyindirnya.  
            “Nanti kalau aku udah kerja, aku janji aku bakal merawatmu. Oke? Aku janji bakal bawa kamu ke rumah sakit jiwa, Hahaha”.
            “Dasar, Woni sableng! Udah yuk, pulang besok pagi ada kuis loh! Ingat?” kamu sih enak memang pintar, aku perlu setengah mati untuk bisa mendapatkan nilai bagus.
            “Ih, tar dulu! Jadi kamu gak mau nih ngelakuin taruhan ini?”
            “Enggak.”
            “Ah, gak asik ah! Aku ngambek ah!”
            “Yaudah, terserah. Aku pulang ya?” ucapku tak peduli.
            “Ih, sebentar dulu. Beneran gak mau nih?” ucapmu dengan muka memelas.
            “Enggak, kenapa gak kamu aja? kenapa aku yang harus taruhan? Emangnya kamu berani?”
            “Berani. Tapi bayarannya lebih mahal daripada segepok uang, Kin,”
            “Dasar, kunyuk! Ketauan kan mau nya apa?”
            “HAHAHA, emang kamu tau mau aku apa?”
            “Biaya makan gratis selama seminggu?”
            “Memangnya, aku cowo matre banget? Aku gak akan minta itu kok. Aku cuma minta hal gampang. Gimana?”
            “Apa?”
            “Ada deh, bilang ‘iya’ dulu,”
            “OKE! DEAL! Tapi taruhannya kamu nyingkap rok penyanyi itu ya, gimana?”

            “Ah,gampang! Ayok, sekarang!” ucapmu menarikku seenaknya dari meja, membuatku syok, akan aksi nekatmu.

            Tak sampai semenit kita berdua sudah berada di barisan paling depan panggung kecil di kafe itu, tak sampai sedetik pula rok penyanyi itu kamu singkap, menimbulkan jerit keras dari sang penyanyi. Belum sempat aku melihat reaksi marah penyanyi itu kamu mengajakku berlari kencang keluar dari kafe. Beberapa orang menyoraki dan mengejar kita, beberapa lagi bersiul senang melihat aksimu. Kamu gila!

            Nafasku kala itu, belum beraturan, hampir setengah jam kita berlari dikejar masa, atas aksi gilamu. Kita berhasil bersembunyi diantara bilik-bilik kosan.

            “KAMU GILA TAU GAK SIH, WON!” teriakku setelah berhasil mengatur nafas.
            “Kan kamu yang menyuruh. Lupa? Hahahaha,"  kamu masih saja tertawa terbahak-bahak.
            “Ya, tapi kan gak gitu juga Won,”
“Eits, kamu masih, punya hutang loh sama aku! Hahaha,”
“Aku, gak minta apa-apa, Kin. Aku cuma minta, kamu mau kan nanti jadi istri dan ibu ibu dari anak-anakku?”
“Ah?” kala itu masih kebingungan.
“Kinan gembrot lemot banget, sih! aku suka kamu Kinan, aku sayang kamu! Jawabannya harus ‘iya’ loh, kan udah janji, wek!” ucapmu sambil memelet.
“Hahahaha, bencada ya, Won?”
“Serius! Eh, jangan kepedeaan ya gadis gembrot! Aku cuma minta kamu jadi istriku, bukan pacarku, tolong!”
“Ish, nyebelin!” ucapku menjawir telingamu. Saat itu ada rasa bahagia yang tak tertahan. Rasa benci yang sedari dulu kupupuk padamu hilang begitu saja.


Mungkin itu adalah kesalahan besarku, mulai mencintaimu dengan kebencian dan beberapa tahun ini aku mulai muak dengan segala sifatmu. Mengenang hari itu membuatku sadar, aku masih mencintaimu dan aku tak bisa hidup tanpamu.
  “Ibu Kinan?”
“Iya, saya, dok? Gimana keaadaan suami saya, dok?”
“Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Bapak Woni.. Kecelakaan mobil itu telah mengenai sistem syaraf otaknya bapak Woni dan mengganggu sistem pernafasannya. Sekali lagi kami meminta maaf,”
“Saya, mencintainya dokter…” ucapku gamang. Aku masih belum dapat mencerna kata-kata dokter di depanku ini.

“Mama, jangan sedih ya,” ucap Anila memelukku yang masih saja terpaku sejak dokter pergi.
Aku jatuh terduduk di lantai, mulai menyadari, apa yang baru saja terjadi. Anila menepuk-nepuk pundakku pelan, mengajakku untuk duduk di salah satu kursi di ruang tunggu, membuatku semakin rapuh.





***

. “Aku benci kamu! Aku mau cerai! Aku mau cerai! Talak aja aku sekalian,Won!”
Aku terpaku mengingat kalimat itu. Kalimat yang beberapa kali pernah kuucapkan padamu. Kalimat yang pernah membuat Anila beberapa kali menangis.

            Aku benci, kamu, Won. Benci kamu yang meninggalkan aku sendiri, saat aku sadar aku masih mencintaimu, Won. Woni, aku mohon kamu kembali, jangan tinggalin aku sendiri, Won, Anila butuh kamu.