Rabu, 21 Mei 2014

SAMA

                Saya sedang memeriksa laporan hasil nota barang rusak untuk sift pagi sambil menuju ruang manager. Semakin asiknya saya sampai menubruk seseorang. Hey, tunggu. Bukan saya yang menubruk tapi orang itu!
Saya pandangi orang itu dalam-dalam. Rasanya saya pernah mengenalnya, tapi bukan di toko ini. Dia seorang gadis dengan postur tubuh yang cukup tinggi. Dari gaya busananya yang menggunakan kemeja putih panjang, dengan krudung coklat yang dimasukkan ke dalan blazer berwarna senada serta name tag di samping kiri bazernya, sepertinya dia anak management training yang baru.            
Dia hanya tersenyum dan meminta maaf sebentar kemudian buru-buru pergi. DEG! Detak jantung saya berbunyi kencang sekali saat dia tersenyum. Ada lonjakan emosi di hati saya. Senyum itu tampaknya saya sangat mengenalnya. Senyum yang sudah lama tak saya lihat, namun masih cukup jitu untuk saya kenal. Apa mungkin dia itu gadis yang dulu saya taksir? Ah, sudah lah mengapa saya jadi memikirkan gadis tadi? Lebih baik saya menghitung ulang stock opname untuk hari ini.

supermarket, grocery store, shopping
available at : http://www.businessinsider.com/


Menjadi seorang asistan manager di sebuah hypermarket memang sangat sulit. Tapi di situ lah tantangannya. Tantangan untuk bisa berbaur dengan karyawan lain, tantangan untuk bisa menjaga sikap dengan karyawan dan tentunya menghadapi pelanggan yang kadang suka tak tahu diri. Dulu saya kira menjadi seorang asistan manager itu sulit nyatanya ya, memang sedikit sulit. Hahaha. Untungnya selama saya dipindah-pindahkan ke beberapa toko, selalu mendapatkan karyawan yang ramah dan baik hati. Lupakan tentang pelanggan yang suka semaunya.
Menjadi asistan manager juga membuat saya banyak kehilangan momen bahagia bersama keluarga. Sudah hampir enam bulan ini saya tak pulang ke rumah. Sudah terhitung 2 kali idul fitri saya tak bersama keluarga. Tapi tak apa, mendapat kabar ibu dan bapak baik-baik saja itu sudah cukup. Jika ditanya apa saya senang menjalani semua hal ini, tentu pasti. Namun kendala terberat adalah soal waktu. Bapak dan ibu sudah sering bertanya siapa gadis yang akan saya nikahi. Nyatanya saya masih saja sendiri. Bagaimana tidak, untuk berkomunikasi dengan teman-teman jaman kuliah pun cukup sulit apalagi untuk mencari pendamping hidup.
Saya kemudian membantu karyawan dan beberapa anak management training yang sedang menyusun tata letak display produk sesuai dengan planogram yang baru. Gadis itu masih saja berseliweran di sekitar pandangan mata saya. Dia sedang asik bertanya pada Pak Diki tentang kode-kode buah yang sedang ia timbang untuk pelanggan yang ingin membeli. Kerap kali dia juga membantu Pak Diky mem-packing buah-buahan segar siap santap.
“Dit, udah selesai belum? Ada yang mau dibantu gak?” suara seorang gadis memanggil salah seorang tim management training.
Saya kemudian mencari asal suara. Ternyata itu adalah suara gadis berkerudung coklat itu. Gadis yang sedari tadi menarik perhatian saya. Apalagi saya sempat mengobrol dengan salah seorang anak management training baru, mengenai siapa-siapa saja anak management training baru yang training di toko ini. Gadis itu termasuk anak baru yang ternyata satu kampus dengan saya. Semakin saja saya penasaran dengan gadis itu. Apa benar gadis itu adalah gadis yang saya taksir saat di kantin asrama dulu.
“Belum nih. Bentar lagi ya Syil,” ucap jawab anak management training yang kemudian saya ketahui bernama Didit.
“Sini aku bantu, biar cepet,” ucap gadis itu lagi.
Saat Didit pergi memindah kan barang, saya berusaha mengobrol dengan gadis itu. Benar saja gadis itu memang gadis inceran saya dulu di kampus. Gadis yang tidak pernah saya ketahui namanya selama ini. Saya hanya tahu dia termasuk gadis tomboy yang manis dan dulu saya sering curi-curi pandang saat main dota di kantin asrama bersama teman-teman sejurusan.
Bodohnya ternyata gadis itu berkuliah di fakultas yang letaknya bersebelahan dengan fakultas saya. Bahkan ada beberapa mata kuliah yang gedung kuliahnya bersamaan. Tak mau kehilangan kesempatan saya berusaha mencari persamaan antaranya dan saya. Mulai dari dosen statistik yang sama hingga pemilihan ketua BEM.
Nama gadis itu Syila. Banyak yang berubah dengan Syila. Rambut pendeknya dulu sudah terbalut kerudung. Masih saya ingat dulu dia suka ramai sendiri di kantin bersama teman-temannya, menggunting ini-itu, membuat yel-ye yang sepertinya untuk persiapan ospek di jurusannya. Saya juga pernah memergokinya membawa tas gunung tinggi entah mau ke mana. Sepertinya dia anak gunung. Namun cerita itu sudah lama saya pendam semenjak saya sibuk skripsi. Lagi pula saya benar-benar tidak memiliki clue apapun tentangnya selain dia anak asrama. Satu yang masih sama senyumnya tak pernah berubah.
***
Badan saya masih pegal-pegal akibat remodelling toko. Rasanya perubahan tata letak antar satu bilik dengan bilik lainnya tak juga kunjung selesai. Pukul setengah 7 pagi. Saya kemudian merapatkan pintu gerbang belakang dan menguncinya. Saya kemudian duduk-duduk santai di depan gerbang belakang toko ditemani Pak Jarwo. Saya kemudian mengeluarkan Djarum saya, menghidupkan pematik, menyulutnya dan menghisap perlahan Djarum itu.
“Huh, Pak, hah Pintunya, hah sudah ditutup ya, Pak?” suara nafas beradu pelan dengan suaranya.
DEG! Itu Syila. Dia telat sepertinya. Saya linglung seketika di tembak dengan pertanyaan itu tiba-tiba.
“I-iya,” jawab saya sedikit canggung. Saya kembali mengirup Djarum untuk merilekskan pikiran saya.
“Yah, terus saya gimana, Pak? Saya nunggu di luar berarti? Saya duduk dulu aja deh,” ucap Syila langsung duduk di samping saya.
Aduh, mampus nih, kenapa saya jadi deg-dengan gini. Suasana hening tercipta. Pak Jarwo pun tak sedikit pun mengeluarkan suara. Sate menit berlalu namun terasa lama sekali. Kunci pintu belakang masih saya pegang, dan sebenarnya bisa saja dia masuk ke dalam, namun hati nurani mengatakan keadilan tak boleh dilanggar. Lagipul ada Pak Jarwo, saya harus menjaga wibawa sebagai atasan.
“Kamu memang kos dimana? Kok datangnya telat?” tanya saya membuka pembicaraan.
‘’Kosan saya? Pasti bapak mau ketawa deh, kalu dengernya. Saya mah ngekosnya di Bandung. Saya orang sini, Pak. Rumah saya juga deket tinggal jalan kaki, tadi saya telambat bangun, Pak,” ucapnya sambil tertawa.
“Kamu orang asli sini?”
“Iya, Pak. Hehehe. Ini dibuka pintunya kapan sih Pak? Apa saya harus dari pintu depan, Pak?”
“Nanti kalau sudah selesai briefing pagi dibuka kok pintunya. Tunggu saja,” jawab saya sekenanya.
“Oh, gitu ya, Pak? Oke deh saya tunggu.  Bapak orang asli sini juga? Atau orang Bandung, Pak?”
“Saya?” Kamu mau main ke rumah saya? Hampir saja saya keceplosan mengatakan hal itu. “Saya orang Bandung, Cibiru.”
“Wah, berarti dulu ke kampus deket dong? Sekarang ngekos dimana, Pak?” ucap Syila memainkan ekspresinya. Matanya berkedip tak sengaja beberapa kali, memerkan eye shadow coklatnya.
“Di belakang Universitas Harapan.”
“Oh, lumayan deket itu, Pak. Bawa motor Pak?” tanya Syila.
“Iya, bawa,” ucap saya singkat.  
Suasana hening kembali tercipta. Pak Jarwo kemudian pamit pulang ke rumah. Syila asik memegang HP nya entah melakukan apa. Saya pun beberapa kali memandangi layar HP yang tak ada apa-apanya untuk menutupi kecanggungan.
Djarum yang saya hisap sudah habis. Saya kembali gugup menghadapi gadis manis di samping saya ini. saya berusaha mengobrol kembali dengannya.
“Kamu ngekos dimana pas di Bandung?”
“Saya?” tanya Syila menatap mata saya tajam. “Pasti bapak gak percaya. Saya tuh tiga tahun di asrama,” tambahnya lagi.
Ya Tuhan, Gusti! Benarkan dugaan saya. Syila pasti gadis asrama yang dulu.
“Saya, juga dulu suka sering main di asrama,” ucap saya sedikit memancing, memastikan Syila memang gadis yang saya taksir dulu.
“Eh, jangan bilang bapak yang dulu suka main dota malam-malam di asrama ya?” tanya Syila to the poin. Tuhan, saya yakin banget gadis ini adalah gadis yang saya taksir dulu.  Ya Tuhan, mungkin kah saya memang berjodoh dengannya?
“Iya bener. Kamu tau saya?”
“Kayaknya tau, Pak. Bapak yang suka duduk di ujung kiri meja pojok yang dekat kantin Bu Ajid bukan?”
“Hah? Kamu tau saya?” tanya saya sambil mencengram bahunya. Saya cukup syok dengan pernyataan Syila barusan.
 “Hehehe, jadi bener yang waktu itu bapak?” tanya Syila sedikit canggung karena pundaknya saya cengkram.
“Eh, maaf ya saya gak sengaja.” Ucap saya melepaskan cengkraman saya. “Iya, itu saya. Wah, saya gak nyangka, kamu bisa tau saya,”
“Hahaha, yaampun dunia sempit banget! Gimana saya gak inget pak, setiap saya dan teman-teman saya lewat, temen-temen bapak pasti ceng-cengin. Cuma bapak sama temen sebelah bapak yang diem-diem aja,”
Saya tersenyum tipis mengingat kejadian jaman dulu. Masih saya dapat dengan jelas betapa hebohnya teman-teman saya saat melihat Syila datang. Mereka tau kalau saya naksir Syila dan mereka pun tau saya tak pernah berani untuk sekedar berkenalan dengannya. Tentu saja mereka memperolok-olok saya jika Syila ke kantin asrama.    
“Hahaha, maaf ya kelakuan teman-teman saya emang suka ramai sendiri,” ucap saya tulus meminta maaf.
“Gak apa-apa Pak. Namanya juga  jaman dulu. Masih muda, Pak, Hahaha,” ucap Syila sambil mengerjap-ngerjapkan tangannya. “Temen bapak yang sering duduk di sebelah bapak siapa namanya Pak?” tanya Syila padaku lagi.
“Yang sebelah saya? Iman maksudnya? Yang kumisan bukan?”
“Iya, yang itu Pak. Ganteng deh, Pak. Dulu saya naksir tau sama dia. Makanya saya sama temen-temen saya suka bela-belain belajar bareng di kantin malem-malem supaya saya bisa ketemu sama temen bapak itu. Padahal tau namanya juga enggak Pak. Labil ya saya dulu Pak. hahaha,”

Saya hanya terdiam mendengar Syila berkata. Dia kemudian berbicara panjang lebar dan sangat antusias menceritakan tentang kelakuannya dulu saat mengeceng Iman salah satu sahabat saya. Tak lama kemudian Pak Romi satpam toko membuka pintu gerbang belakang. Syila kemudian pamit pada saya dan berlalu begitu saja meninggalkan saya yang masih terpaku dengan perkataan Syila.