Saya
sedang memeriksa laporan hasil nota barang rusak untuk sift pagi sambil menuju ruang manager. Semakin asiknya saya sampai
menubruk seseorang. Hey, tunggu. Bukan saya yang menubruk tapi orang itu!
Saya pandangi
orang itu dalam-dalam. Rasanya saya pernah mengenalnya, tapi bukan di toko ini.
Dia seorang gadis dengan postur tubuh yang cukup tinggi. Dari gaya busananya
yang menggunakan kemeja putih panjang, dengan krudung coklat yang dimasukkan ke
dalan blazer berwarna senada serta name tag di samping kiri bazernya,
sepertinya dia anak management training
yang baru.
Dia hanya
tersenyum dan meminta maaf sebentar kemudian buru-buru pergi. DEG! Detak
jantung saya berbunyi kencang sekali saat dia tersenyum. Ada lonjakan emosi di
hati saya. Senyum itu tampaknya saya sangat mengenalnya. Senyum yang sudah lama
tak saya lihat, namun masih cukup jitu untuk saya kenal. Apa mungkin dia itu
gadis yang dulu saya taksir? Ah, sudah lah mengapa saya jadi memikirkan gadis
tadi? Lebih baik saya menghitung ulang stock
opname untuk hari ini.
![]() |
| available at : http://www.businessinsider.com/ |
Menjadi
seorang asistan manager di sebuah hypermarket
memang sangat sulit. Tapi di situ lah tantangannya. Tantangan untuk bisa
berbaur dengan karyawan lain, tantangan untuk bisa menjaga sikap dengan
karyawan dan tentunya menghadapi pelanggan yang kadang suka tak tahu diri. Dulu
saya kira menjadi seorang asistan manager itu sulit nyatanya ya, memang sedikit
sulit. Hahaha. Untungnya selama saya dipindah-pindahkan ke beberapa toko,
selalu mendapatkan karyawan yang ramah dan baik hati. Lupakan tentang pelanggan
yang suka semaunya.
Menjadi
asistan manager juga membuat saya banyak kehilangan momen bahagia bersama
keluarga. Sudah hampir enam bulan ini saya tak pulang ke rumah. Sudah terhitung
2 kali idul fitri saya tak bersama keluarga. Tapi tak apa, mendapat kabar ibu
dan bapak baik-baik saja itu sudah cukup. Jika ditanya apa saya senang
menjalani semua hal ini, tentu pasti. Namun kendala terberat adalah soal waktu.
Bapak dan ibu sudah sering bertanya siapa gadis yang akan saya nikahi. Nyatanya
saya masih saja sendiri. Bagaimana tidak, untuk berkomunikasi dengan teman-teman
jaman kuliah pun cukup sulit apalagi untuk mencari pendamping hidup.
Saya kemudian
membantu karyawan dan beberapa anak management training yang sedang menyusun
tata letak display produk sesuai
dengan planogram yang baru. Gadis itu masih saja berseliweran di sekitar
pandangan mata saya. Dia sedang asik bertanya pada Pak Diki tentang kode-kode buah
yang sedang ia timbang untuk pelanggan yang ingin membeli. Kerap kali dia juga
membantu Pak Diky mem-packing
buah-buahan segar siap santap.
“Dit, udah
selesai belum? Ada yang mau dibantu gak?” suara seorang gadis memanggil salah
seorang tim management training.
Saya kemudian
mencari asal suara. Ternyata itu adalah suara gadis berkerudung coklat itu.
Gadis yang sedari tadi menarik perhatian saya. Apalagi saya sempat mengobrol
dengan salah seorang anak management training baru, mengenai siapa-siapa saja
anak management training baru yang training di toko ini. Gadis itu termasuk
anak baru yang ternyata satu kampus dengan saya. Semakin saja saya penasaran
dengan gadis itu. Apa benar gadis itu adalah gadis yang saya taksir saat di
kantin asrama dulu.
“Belum nih.
Bentar lagi ya Syil,” ucap jawab anak management
training yang kemudian saya ketahui bernama Didit.
“Sini aku
bantu, biar cepet,” ucap gadis itu lagi.
Saat Didit
pergi memindah kan barang, saya berusaha mengobrol dengan gadis itu. Benar saja
gadis itu memang gadis inceran saya dulu di kampus. Gadis yang tidak pernah saya
ketahui namanya selama ini. Saya hanya tahu dia termasuk gadis tomboy yang
manis dan dulu saya sering curi-curi pandang saat main dota di kantin asrama
bersama teman-teman sejurusan.
Bodohnya
ternyata gadis itu berkuliah di fakultas yang letaknya bersebelahan dengan
fakultas saya. Bahkan ada beberapa mata kuliah yang gedung kuliahnya bersamaan.
Tak mau kehilangan kesempatan saya berusaha mencari persamaan antaranya dan
saya. Mulai dari dosen statistik yang sama hingga pemilihan ketua BEM.
Nama gadis itu
Syila. Banyak yang berubah dengan Syila. Rambut pendeknya dulu sudah terbalut kerudung.
Masih saya ingat dulu dia suka ramai sendiri di kantin bersama teman-temannya,
menggunting ini-itu, membuat yel-ye yang sepertinya untuk persiapan ospek di
jurusannya. Saya juga pernah memergokinya membawa tas gunung tinggi entah mau
ke mana. Sepertinya dia anak gunung. Namun cerita itu sudah lama saya pendam
semenjak saya sibuk skripsi. Lagi pula saya benar-benar tidak memiliki clue apapun tentangnya selain dia anak
asrama. Satu yang masih sama senyumnya tak pernah berubah.
***
Badan saya
masih pegal-pegal akibat remodelling
toko. Rasanya perubahan tata letak antar satu bilik dengan bilik lainnya tak
juga kunjung selesai. Pukul setengah 7 pagi. Saya kemudian merapatkan pintu
gerbang belakang dan menguncinya. Saya kemudian duduk-duduk santai di depan
gerbang belakang toko ditemani Pak Jarwo. Saya kemudian mengeluarkan Djarum saya, menghidupkan pematik,
menyulutnya dan menghisap perlahan Djarum
itu.
“Huh, Pak, hah
Pintunya, hah sudah ditutup ya, Pak?” suara nafas beradu pelan dengan suaranya.
DEG! Itu
Syila. Dia telat sepertinya. Saya linglung seketika di tembak dengan pertanyaan
itu tiba-tiba.
“I-iya,” jawab
saya sedikit canggung. Saya kembali mengirup Djarum untuk merilekskan pikiran
saya.
“Yah, terus
saya gimana, Pak? Saya nunggu di luar berarti? Saya duduk dulu aja deh,” ucap
Syila langsung duduk di samping saya.
Aduh, mampus
nih, kenapa saya jadi deg-dengan gini. Suasana hening tercipta. Pak Jarwo pun
tak sedikit pun mengeluarkan suara. Sate menit berlalu namun terasa lama
sekali. Kunci pintu belakang masih saya pegang, dan sebenarnya bisa saja dia
masuk ke dalam, namun hati nurani mengatakan keadilan tak boleh dilanggar.
Lagipul ada Pak Jarwo, saya harus menjaga wibawa sebagai atasan.
“Kamu memang
kos dimana? Kok datangnya telat?” tanya saya membuka pembicaraan.
‘’Kosan saya?
Pasti bapak mau ketawa deh, kalu dengernya. Saya mah ngekosnya di Bandung. Saya
orang sini, Pak. Rumah saya juga deket tinggal jalan kaki, tadi saya telambat
bangun, Pak,” ucapnya sambil tertawa.
“Kamu orang
asli sini?”
“Iya, Pak.
Hehehe. Ini dibuka pintunya kapan sih Pak? Apa saya harus dari pintu depan,
Pak?”
“Nanti kalau
sudah selesai briefing pagi dibuka
kok pintunya. Tunggu saja,” jawab saya sekenanya.
“Oh, gitu ya,
Pak? Oke deh saya tunggu. Bapak orang
asli sini juga? Atau orang Bandung, Pak?”
“Saya?” Kamu mau main ke rumah saya? Hampir saja
saya keceplosan mengatakan hal itu. “Saya orang Bandung, Cibiru.”
“Wah, berarti
dulu ke kampus deket dong? Sekarang ngekos dimana, Pak?” ucap Syila memainkan
ekspresinya. Matanya berkedip tak sengaja beberapa kali, memerkan eye shadow coklatnya.
“Di belakang
Universitas Harapan.”
“Oh, lumayan
deket itu, Pak. Bawa motor Pak?” tanya Syila.
“Iya, bawa,”
ucap saya singkat.
Suasana hening
kembali tercipta. Pak Jarwo kemudian pamit pulang ke rumah. Syila asik memegang
HP nya entah melakukan apa. Saya pun beberapa kali memandangi layar HP yang tak
ada apa-apanya untuk menutupi kecanggungan.
Djarum yang
saya hisap sudah habis. Saya kembali gugup menghadapi gadis manis di samping
saya ini. saya berusaha mengobrol kembali dengannya.
“Kamu ngekos
dimana pas di Bandung?”
“Saya?” tanya
Syila menatap mata saya tajam. “Pasti bapak gak percaya. Saya tuh tiga tahun di
asrama,” tambahnya lagi.
Ya Tuhan,
Gusti! Benarkan dugaan saya. Syila pasti gadis asrama yang dulu.
“Saya, juga
dulu suka sering main di asrama,” ucap saya sedikit memancing, memastikan Syila
memang gadis yang saya taksir dulu.
“Eh, jangan
bilang bapak yang dulu suka main dota malam-malam di asrama ya?” tanya Syila to the poin. Tuhan, saya yakin banget
gadis ini adalah gadis yang saya taksir dulu.
Ya Tuhan, mungkin kah saya memang berjodoh dengannya?
“Iya bener. Kamu
tau saya?”
“Kayaknya tau,
Pak. Bapak yang suka duduk di ujung kiri meja pojok yang dekat kantin Bu Ajid
bukan?”
“Hah? Kamu tau
saya?” tanya saya sambil mencengram bahunya. Saya cukup syok dengan pernyataan
Syila barusan.
“Hehehe, jadi bener yang waktu itu bapak?” tanya
Syila sedikit canggung karena pundaknya saya cengkram.
“Eh, maaf ya
saya gak sengaja.” Ucap saya melepaskan cengkraman saya. “Iya, itu saya. Wah, saya
gak nyangka, kamu bisa tau saya,”
“Hahaha, yaampun
dunia sempit banget! Gimana saya gak inget pak, setiap saya dan teman-teman
saya lewat, temen-temen bapak pasti ceng-cengin. Cuma bapak sama temen sebelah
bapak yang diem-diem aja,”
Saya tersenyum
tipis mengingat kejadian jaman dulu. Masih saya dapat dengan jelas betapa
hebohnya teman-teman saya saat melihat Syila datang. Mereka tau kalau saya naksir
Syila dan mereka pun tau saya tak pernah berani untuk sekedar berkenalan
dengannya. Tentu saja mereka memperolok-olok saya jika Syila ke kantin asrama.
“Hahaha, maaf
ya kelakuan teman-teman saya emang suka ramai sendiri,” ucap saya tulus meminta
maaf.
“Gak apa-apa Pak.
Namanya juga jaman dulu. Masih muda,
Pak, Hahaha,” ucap Syila sambil mengerjap-ngerjapkan tangannya. “Temen bapak
yang sering duduk di sebelah bapak siapa namanya Pak?” tanya Syila padaku lagi.
“Yang sebelah
saya? Iman maksudnya? Yang kumisan bukan?”
“Iya, yang itu
Pak. Ganteng deh, Pak. Dulu saya naksir tau sama dia. Makanya saya sama
temen-temen saya suka bela-belain belajar bareng di kantin malem-malem supaya
saya bisa ketemu sama temen bapak itu. Padahal tau namanya juga enggak Pak. Labil
ya saya dulu Pak. hahaha,”
Saya hanya
terdiam mendengar Syila berkata. Dia kemudian berbicara panjang lebar dan sangat
antusias menceritakan tentang kelakuannya dulu saat mengeceng Iman salah satu
sahabat saya. Tak lama kemudian Pak Romi satpam toko membuka pintu gerbang
belakang. Syila kemudian pamit pada saya dan berlalu begitu saja meninggalkan
saya yang masih terpaku dengan perkataan Syila.
