Aku
terpaku membaca sebuah instan messenger
di handphone milik ibu, dengan nama “My lovely” di header column-nya. Ini jelas-jelas bukan nomor ayah, dan foto personalnya
jelas-jelas bukan foto ayah. Air mataku pecah tanpa sebab membaca satu persatu
percakapan panjang yang tak berkesudahan di instan
messenger itu. Hatiku ngilu bukan main. Hubungan semanis apakah yang telah
ibu jalin dengan lelaki bernama “my
lovely” ini?
Ibu
keluar dari kamar, aroma segar khas lemon menyengat indera penciumanku. Sepertinya
ibu baru selesai mandi. Buru-buru kuhapus air mataku yang sedari tadi mengalir.
Aku tidak ingin terlihat lemah! Terlebih di depan orang yang jelas-jelas telah
menghianatiku.
Ibu
mondar-mandir di sekitar meja rias, mencari sesuatu.
“Din,
lihat HP ibu tidak?” tanya ibu padaku.
Lagi-lagi hatiku teriris mendengar pertanyaan
dari ibu. Entah setan dari mana, entah keberanian dari mana, aku tiba-tiba saja
mampu mengeluarkan pertanyaan retoris. “Sedang menunggu pesan dari My lovely, Bu?”
“Hah?
Ibu hanya sedang mencari HP andien,”

“Iya! HP yng isinya pesan dari orang bernama my lovely kan, bu? Iya kan?” air mataku pecah. Aku jatuh terduduk di salah satu sofa ruang keluarga.
Sakit! Ini sangat menyakitkan! Lebih dari sekedar kehilangan seorang kekasih. Aku bahkan bukan pelaku utama yang dikhianati di sini. Aku hanya sesuatu hasil dari sebuah kenyataan yng dihianati.
Aku
menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, bersender di salah satu sofa. Aku
malu! Aku malu dengan kehidupanku yang nista ini! aku malu punya ibu
sepertinya! Aku malu jadi diriku sendiri!
Aku
menutup mataku lekat-lekat sampai pipi dan kelopak mataku beradu kuat. Aku berusaha melakukannya agar air mata ini
tidak jatuh terus. Gelap! Semua terasa semakin gelap. Perlahan aku mulai
membanyangkan percakapanku beberapa minggu lalu dengan Ginda.
“Hah? Kamu ngomong apa sih? cepet banget,
kayak orang kumur-kumur. Hahaha,”
“Hjdshjdnmdehfbnfmhjrf,
fjhbfrmvnbek!”
“Ginda! Serius! Ngomongnya pelan-pelan
aja. Kamu tuh lucu banget deh! Hahaha. Kamu percaya gak sih? aku tuh kalau ngomong
sering dimarahin sama temen-temen karena semakin cepatnya, terus ternyata ada
yang lebih cepat dari aku. Hahaha, ”
“Hmm,
gimana gini?” tanya Ginda padaku, sekarang ritme ucapannya perkata sangat
lambat.
“Ya,
gak usah lambat begitu juga lah. Hahaha. Tapi kayaknya kamu tipe cowok yang
serba instan ya. minum aja beberapa detik udah habis. Hahaha. coba liat gelas
di samping kamu. Sudah ada 7 buah. Kamu gentong ya? hahaha,” ucapku sambil
tertawa terbahak-bahak. Aku benar-benar merasa bahagia ketika itu. Sampai-sampai
aku bisa melupakan Rico.
“Hmm, kalau aku jawab iya kamu pasti
kaget. Tapi percaya deh, hidup instan itu gak enak!”
“Hah? Bukan semua orang ingin
instan? Makan mau instan. Minum maunya
instan. Perjalanan juga mau instan kalau tidak, mana mungkin klakson mobil
banyak berbunyi seenaknya, bahkan akhirnya jalan TOL pun dibangun. Belajar juga
mau instan sampai-sampai banyak orang memalsukan ijasah. Bekerja juga seperti
itu sampai-sampai banyak petinggi negara yang saling suap-menyuap. Bahagia pun
juga ingin instan, alternatif cepat, ya narkoba!”
“Haha, kamu kayak lagi demo di depan
saya deh. Menurut aku instan tuh gak asik. Kamu bakal terus ngerasain hal-hal
yang sama setiap saatnya dengan waktu singkat. Muak! Jenuh! Oh ya, saat
semuanya menjadi instan, kamu akan berperang pada dirimu sendiri. Kematian juga
akan datang dengan instan,”
“Hahaha, aku jadi semakin percaya,
kamu itu cowok yang serba instan. Pikiran kamu itu loh, seperti bukan manusia
di jaman ini,”
Percakapanku
dengan Ginda tiba-tiba lenyap. Aku masih sesunggukan menahan air mata yang
masih saja terjatuh. Apa ibu juga ingin bahagia, sampai-sampai melakukan
perselingkuhan? Apa ibu tidak bahagia hidup dengan ayah, denganku dan juga
dengan kakak? Apa ibu begitu membenci keluarga ini?
“Kalau memang ibu
bahagia,” ucapku membuka wajahku yang sedari tadi kututup dengan telapak
tangan. Aku memberanikan diri untuk menatap ibu, mencari sebuah jawaban,
mencari sebuah kebenaran dari kesalahan yang telah ibu lakukan.
Nihil. Ibu hanya terlihat kaget kutatap
seperti itu, tidak lebih. Aku muak, lalu kubuang saja pandanganku pada satu
sudut lantai. Aku berusaha mengingat-ngingat apa yang telah terjadi dikeluarga
ini. Bagaimanapun aku hanya seorang penonton yang tersakiti karena sebuah
pertunjukkan yang sering mereka tampilkan.
“Kalau memang ibu
bahagia…., ishh, Andin tau, ibu kecewa sama ayah yang tiba-tiba jadi
pengangguran, ishh, ibu kecewa karena ayah membuat ibu sakit kanker paru-paru,
ishh, ibu kecewa karena ayah suka bertengkar dengan kakak dan kakak terlibat
narkotika, ishh. Andin tau bagaimana rumah kita sudah seperti neraka
jahanam…..,” ucapku tertahan. Hatiku terluka. sakit. Ini benar-benar perih. Aku
tidak mampu melanjutkan ucapanku. Air mataku kembali jatuh entah yang keberapa
kalinya.
Perkataanku dengan
Ginda sepertinya benar. Semua orang butuh keinstanan. Termasuk ibu, termasuk
aku. Aku ingin sesuatu yang instan untuk mengakhiri perasaan nyeri di dadaku.
“Bu, kalau semua itu
membuat ibu sakit, membuat ibu membutuhkan tumpuan hidup pada lelaki lain, bagaimana
dengan Andin bu?” ucapku memukul-mukul kencang dadaku. SAKIT! HATIKU SAKIT!
“Hati Andin sakit bu! Ishhh, menerima kenyataan punya ayah yang tidak bekerja,
punya kakak yang suka bertengkar dengan ayah, punya ibu yang divonis gak akan
lama lagi usiannya. Issshhh, apa sekarang Andin juga harus pura-pura bego ngeliat
ibu selingkuh? Andin capek bu, ngelihat neraka seperti ini!”
Ibu mendekat ke arah,
berusaha memelukku. Aku dulu selalu merindukan dipeluk seperti ini oleh ibu. Tapi
tidak kali ini! AKU JIJIK! Aku berusaha melepaskan pelukannya. Aku mendorongnya
keras. Aku segera berlari ke arah dapur. Aku mengambil pisau dapur yang
tergeletak di wastafel. Masih berlumur saus spagetti
bewarna merah keorangean, bekas masakanku tadi siang, Aku ingin mengakhiri
semua ini dengan instan!
“Makasih bu, sudah
mengenalkan Andin pada neraka, sekarang Andin mau pergi ke neraka!” ucapku mengiris
berkali-kali pergelangan tanganku. Darah pekat bewarna merah berhasil melumuri
pisau yang kugunakan, melapisi sisa-sisa saus spagetti yang tertinggal di pisau
itu.
Before this Story --> Sehari Tentang Cinta
The Same Situation --> LUKA