Aku
membaca sms yang belum terbaca. Ah, aku hampir lupa pertemuan dengan ketiga
sahabatku. Pertemuan yang rutin diadakan setiap 3 bulan sekali selepas kami lulus kuliah. Pertemuan ini sengaja diadakan untuk mengetahui kabar masing-masing
dari kami, lebih tepatnya ajang curhat.
Selama
ini, yang lebih sering curhat adalah Fike, terkadang aku juga sih. Yah, biasalah
curhat mengenai gebetan atau pacar. Pokoknya temanya selalu cinta-cintaan,
patah hati lah, jatuh hati lah. Entah mengapa momen itu paling seru intuk
diceritakan. Tapi entah mengapa yang sering curhat di antara kita berempat
hanya aku dan Fike, sementara Lika dan Arbi hanya akan menjadi pendengar yang
baik.
Aku
segera membereskan barang-barang di kubikel kerjaku. Mengambil mobil matic di parkiran kantor dan segera
melaju ke kafe tempat bertemu. 15 menit kemudian aku sudah sampai di kafe itu.
Ketiga sahabatku melambai-lambaikan tangan ke arahku. Aku segera menuju ke meja
tempat mereka duduk. Sudah ada beberapa pesanan makanan di sana, termasuk
pesanan favoritku.

Fike
memulai ceritanya, tanpa diminta. Ia mengambil tisu dan mulai menangis. Baru
saja, sebelum aku datang Fike memergoki Arga, pacarnya selama 3 bulan
belakangan ini, berselingkuh. Lika berusaha merajuk, menenangkan Fike.
Sementara Arbi melirikku, bingung akan melakukan apa.
‘Ah memang semua
laki-laki itu brengsek! Kalau enggak brengsek homo!’
tudingku dalam hati. Rasanya ingin sekali marah-marah dan menjerit seperti itu,
kalau saja Si Arbi tidak ada. Ya, Si Arbi juga termasuk cowo brengsek, aku tau
sekali maksudnya ikut ke lingkaran persahabatan ini. Ini semua karena Lika. Aku
sangat tau Arbi naksir Lika dari jaman semester 1 dulu. Sayangnya Lika
sepertinya enggan untuk berpacaran, terlebih pada Arbi.
Aku
sebenarnya juga bingung, padahal Lika itu manis, pipinya merona setiap kali
tersenyum, kulitnya yang kuning langsat dan badannya yang tinggi semampai.
Kalau diberi nilai secara Fisik, Lika akan masuk jajaran 8 ke atas. Pribadinya
juga baik, penuh sosok keibuan, seperti hari ini ia tersenyum, berusaha
menenangkan Fike. Ia bahkan tidak pernah terlihat gundah dan gusar seperti
wanita lainnya, walaupun sampai detik ini ia belum pernah punya pasangan. Bagaimana
mungkin Arbi dan para lelaki lain tak akan tergila? Kadang terselip rasa
cemburu yang dalam pada sahabatku yang satu ini.
Fike
kemudian menghapus air matanya. “Udah ah enggak baik nangisin orang yang gak
peduli kita. Iya kan?” ucap Fike berusaha tersenyum. “Ka, sekarang pacar kamu
siapa? kali ini gak boleh bilang enggak ada loh! Atau seenggaknya gebetan gitu
Ka. Masa sih di tempat kantormu enggak ada yang ganteng?” tanya Fike pada Lika.
Lika
hanya tersenyum santai. Sementara Arbi terlihat sangat penasaran.
‘Ih,
Lika jawab ih! Pokoknya hari ini Lika harus cerita enggak boleh enggak!” ucapku memaksa Lika.
“Ih,
apaan sih kalian!” ucap Lika menggeprak meja pelan.
“Iya,
dong cerita,” tambah Arbi.
“Iya
tuh, Arbi kan juga pingin tau. Ya kan?” ucap Fike mengedip nakal ke Arbi.
“Beneran
enggak ada,” ucap Lika berusaha mengelak.
“Ah
masa sih?” ucapku sambil mencolek pipinya.
“Emang
gimana sih rasanya patah hati? Gue aja enggak tau,” ucap Lika sekenanya.
Ada
perubahan mimik muka pada Lika. Lika tersenyum, tapi dahinya menyerengit,
kelopak matanya mulai menyipit. Tercetak bayangan air mata di bola matanya yang
siap terjatuh. Lika kenapa?
“Gue
enggak pernah tau,” ucap Lika pelan.
Pipi
Lika mulai memerah. Lika menutup matanya dengan tangan kanannya. Pertahanannya
Pecah. Tubuhnya mulai terguncang perlahahan. Hidungnya mulai basah dan memerah.
Air matanya mulai turun dari kelopak mata yang tersembunyi di balik tangan
kanannya. Ia mulai menggigit bibirnya. Aku, Fike dan Arbi saling berpandangan.
Ada apa? Aku belum pernah melihat Lika seperti ini.
“Patah
hati itu sesakit apa? Sesakit ketika jatuh dari sepeda kah? Sesakit ketika
dimarahi ibu kah? Sesakit dimusuhi teman kah?” ucap Lika lagi.
Lika
menundukkan wajahnya, mencari sesuatu dalam tasnya. Mengeluarkan se-bar coklat almond, membuka bungkusnya
kemudian mengunyahnya terus-terusan, seolah indera pencicipnya sudah mati rasa,
seolah lambungnya bisa mencerna dengan cepat.
“Kok
enggak ada yang jawab sih?” tanyanya sambil tersenyum, tapi airmatanya masih
mengalir deras.
“Are you okay, Ka?” ucap Fike.
“Im okay really okay, but why they don’t?”
ucap Lika lemah.
“Siapa?”
tanya Arbi angkat bicara.
“Mereka!
Gimana? Gimana mungkin, his, gimana
mungkin gue, his, bisa jatuh cinta? his, gue takut, his, gue takut kayak mereka, his.
Gue, gak mau kayak mereka. His,” ucap Lika sambil berusaha menahan air matanya
yang terus berjatuhan.
Aku
tak kuasa melihat Lika seperti ini. Aku memeluknya erat.
“Gue
capek, his, denger setiap hari, his, mereka bertengkar. Gue capek, his! Gue udah berusaha gak denger,
berusaha gak peduli, his, his, dari
dulu, dari jaman SMA dulu. Tapi gak bisa, his.
Gue bukan orang tuli, indera pendengaran gue masih berfungsi, his. Gue capek! Gue lelah! Gue capek
mendengar percakapan sepele penuh jeritan dan defensive. Bahkan suara-suara pertengkaran mereka bagai lullaby bagi gue! Kenapa gak sekalian cerai
aja sih? Toh gue juga gak pernah dianggapkan di sana?” ucap Lika masih
menangis. Dalam sekejap, kondisinya sudah tidak dapat dikategorikan normal.
Fike
berusaha menepuk-nepuk punggung Lika, sementar Arbi mengelus-elus rambut Lika.
Aku sendiri masih memeluk Lika, masih sedikit syok dengan apa baru saja aku
lihat. Ini bukan Lika yang selama ini kukenal.
Lika
menyeka air matanya, melepas pelukanku, tersenyum manis, kemudian menatap ke
arah Arbi yang duduk di sebelahnya, dalam sekejap ia berubah kembali menjadi
Lika yang selama ini ku kenal.
“Karena
itu, Bi. Tolong jangan terus menunggu gue, Bi. Lo berhak dapat cewek yang lebih
baik dari gue. Lo gak pantes nunggu orang yang bahkan takut untuk jatuh hati.
Gue mohon, bi!” ucap Lika, mampu membuat Arbi menjatuhkan air matanya.
Seketika
aku merasa menjadi orang teregois sedunia. Bagaimana mungkin aku sering
mengeluh dan menangis betapa jahatnya seorang pria, betapa tragisnya hubungan
percintaanku, betapa patah hati itu sangat menyakitkan, sementara hatinya Lika
telah patah sebelum sempat jatuh hati pada seorang pria. Ia telah lama
menanggung luka hati yang dengan mudahnya ia tutup rapat di bagian dalam
hatinya.