Senin, 08 Juli 2013

Sebuah Hati yang Rapuh


Aku membaca sms yang belum terbaca. Ah, aku hampir lupa pertemuan dengan ketiga sahabatku. Pertemuan yang rutin diadakan setiap 3 bulan sekali selepas kami lulus kuliah. Pertemuan ini sengaja diadakan untuk mengetahui kabar masing-masing dari kami, lebih tepatnya ajang curhat.
Selama ini, yang lebih sering curhat adalah Fike, terkadang aku juga sih. Yah, biasalah curhat mengenai gebetan atau pacar. Pokoknya temanya selalu cinta-cintaan, patah hati lah, jatuh hati lah. Entah mengapa momen itu paling seru intuk diceritakan. Tapi entah mengapa yang sering curhat di antara kita berempat hanya aku dan Fike, sementara Lika dan Arbi hanya akan menjadi pendengar yang baik.
Aku segera membereskan barang-barang di kubikel kerjaku. Mengambil mobil matic di parkiran kantor dan segera melaju ke kafe tempat bertemu. 15 menit kemudian aku sudah sampai di kafe itu. Ketiga sahabatku melambai-lambaikan tangan ke arahku. Aku segera menuju ke meja tempat mereka duduk. Sudah ada beberapa pesanan makanan di sana, termasuk pesanan favoritku.


Fike memulai ceritanya, tanpa diminta. Ia mengambil tisu dan mulai menangis. Baru saja, sebelum aku datang Fike memergoki Arga, pacarnya selama 3 bulan belakangan ini, berselingkuh. Lika berusaha merajuk, menenangkan Fike. Sementara Arbi melirikku, bingung akan melakukan apa.
‘Ah memang semua laki-laki itu brengsek! Kalau enggak brengsek homo!’ tudingku dalam hati. Rasanya ingin sekali marah-marah dan menjerit seperti itu, kalau saja Si Arbi tidak ada. Ya, Si Arbi juga termasuk cowo brengsek, aku tau sekali maksudnya ikut ke lingkaran persahabatan ini. Ini semua karena Lika. Aku sangat tau Arbi naksir Lika dari jaman semester 1 dulu. Sayangnya Lika sepertinya enggan untuk berpacaran, terlebih pada Arbi.
Aku sebenarnya juga bingung, padahal Lika itu manis, pipinya merona setiap kali tersenyum, kulitnya yang kuning langsat dan badannya yang tinggi semampai. Kalau diberi nilai secara Fisik, Lika akan masuk jajaran 8 ke atas. Pribadinya juga baik, penuh sosok keibuan, seperti hari ini ia tersenyum, berusaha menenangkan Fike. Ia bahkan tidak pernah terlihat gundah dan gusar seperti wanita lainnya, walaupun sampai detik ini ia belum pernah punya pasangan. Bagaimana mungkin Arbi dan para lelaki lain tak akan tergila? Kadang terselip rasa cemburu yang dalam pada sahabatku yang satu ini.
Fike kemudian menghapus air matanya. “Udah ah enggak baik nangisin orang yang gak peduli kita. Iya kan?” ucap Fike berusaha tersenyum. “Ka, sekarang pacar kamu siapa? kali ini gak boleh bilang enggak ada loh! Atau seenggaknya gebetan gitu Ka. Masa sih di tempat kantormu enggak ada yang ganteng?” tanya Fike pada Lika.
Lika hanya tersenyum santai. Sementara Arbi terlihat sangat penasaran.
‘Ih, Lika jawab ih! Pokoknya hari ini Lika harus cerita enggak boleh  enggak!” ucapku memaksa Lika.
“Ih, apaan sih kalian!” ucap Lika menggeprak meja pelan.
“Iya, dong cerita,” tambah Arbi.
“Iya tuh, Arbi kan juga pingin tau. Ya kan?” ucap Fike mengedip nakal ke Arbi.
“Beneran enggak ada,” ucap Lika berusaha mengelak.
“Ah masa sih?” ucapku sambil mencolek pipinya.
“Emang gimana sih rasanya patah hati? Gue aja enggak tau,” ucap Lika sekenanya.
Ada perubahan mimik muka pada Lika. Lika tersenyum, tapi dahinya menyerengit, kelopak matanya mulai menyipit. Tercetak bayangan air mata di bola matanya yang siap terjatuh. Lika kenapa?
“Gue enggak pernah tau,” ucap Lika pelan.
Pipi Lika mulai memerah. Lika menutup matanya dengan tangan kanannya. Pertahanannya Pecah. Tubuhnya mulai terguncang perlahahan. Hidungnya mulai basah dan memerah. Air matanya mulai turun dari kelopak mata yang tersembunyi di balik tangan kanannya. Ia mulai menggigit bibirnya. Aku, Fike dan Arbi saling berpandangan. Ada apa? Aku belum pernah melihat Lika seperti ini.
“Patah hati itu sesakit apa? Sesakit ketika jatuh dari sepeda kah? Sesakit ketika dimarahi ibu kah? Sesakit dimusuhi teman kah?” ucap Lika lagi.
Lika menundukkan wajahnya, mencari sesuatu dalam tasnya. Mengeluarkan se-bar coklat almond, membuka bungkusnya kemudian mengunyahnya terus-terusan, seolah indera pencicipnya sudah mati rasa, seolah lambungnya bisa mencerna dengan cepat.
“Kok enggak ada yang jawab sih?” tanyanya sambil tersenyum, tapi airmatanya masih mengalir deras.
Are you okay, Ka?” ucap Fike.
Im okay really okay, but why they don’t?” ucap Lika lemah.
“Siapa?” tanya Arbi angkat bicara.
“Mereka! Gimana? Gimana mungkin, his, gimana mungkin gue, his, bisa jatuh cinta? his, gue takut, his, gue takut kayak mereka, his. Gue, gak mau kayak mereka. His,”  ucap Lika sambil berusaha menahan air matanya yang terus berjatuhan.
Aku tak kuasa melihat Lika seperti ini. Aku memeluknya erat.
“Gue capek, his, denger setiap hari, his, mereka bertengkar. Gue capek, his! Gue udah berusaha gak denger, berusaha gak peduli, his, his, dari dulu, dari jaman SMA dulu. Tapi gak bisa, his. Gue bukan orang tuli, indera pendengaran gue masih berfungsi, his. Gue capek! Gue lelah! Gue capek mendengar percakapan sepele penuh jeritan dan defensive. Bahkan suara-suara pertengkaran mereka bagai lullaby bagi gue! Kenapa gak sekalian cerai aja sih? Toh gue juga gak pernah dianggapkan di sana?” ucap Lika masih menangis. Dalam sekejap, kondisinya sudah tidak dapat dikategorikan normal.
Fike berusaha menepuk-nepuk punggung Lika, sementar Arbi mengelus-elus rambut Lika. Aku sendiri masih memeluk Lika, masih sedikit syok dengan apa baru saja aku lihat. Ini bukan Lika yang selama ini kukenal.
Lika menyeka air matanya, melepas pelukanku, tersenyum manis, kemudian menatap ke arah Arbi yang duduk di sebelahnya, dalam sekejap ia berubah kembali menjadi Lika yang selama ini ku kenal.
“Karena itu, Bi. Tolong jangan terus menunggu gue, Bi. Lo berhak dapat cewek yang lebih baik dari gue. Lo gak pantes nunggu orang yang bahkan takut untuk jatuh hati. Gue mohon, bi!” ucap Lika, mampu membuat Arbi menjatuhkan air matanya.
Seketika aku merasa menjadi orang teregois sedunia. Bagaimana mungkin aku sering mengeluh dan menangis betapa jahatnya seorang pria, betapa tragisnya hubungan percintaanku, betapa patah hati itu sangat menyakitkan, sementara hatinya Lika telah patah sebelum sempat jatuh hati pada seorang pria. Ia telah lama menanggung luka hati yang dengan mudahnya ia tutup rapat di bagian dalam hatinya.


Minggu, 07 Juli 2013

Jatuh Hati kepadanya


Angin berhembus perlahan menuju bibir pantai, menyapu sebagian peluh karena sengatan matahari. Kerudung abu-abu yang ia kenakan ikut berkibar terkena angin, persis bendera merah putih di atas tiang kapal nelayan. Pandangannya kemudian teralih pada saya, ia sekilas tersenyum, kemudian kembali asik memandangi birunya pantai.
Saya jatuh hati padanya. Mungkin hal itu lah yang tak akan saya sanggup ucapkan. Bagaimana mungkin bisa saya ungkapkan jika ia terlebih dahulu yang menyatakan. Dimana ego saya sebagai seorang lelaki? Terlalu banyak waktu yang berlalu tanpanya. Apakah mungkin Ia masih sama dengan yang dulu?
“Heh, jelek! Kok ngelamun sih? nanti kesambet ajudan Nyai Roro Kidul loh!” ucapnya mengagetkan saya. Terlalu!
Banyak yang berubah darinya, bahkan kata-kata yang sering ia ucapkan dulu terlihat begitu berbeda. Sekasar apapun ia berbicara saat ini, ia nampak begitu anggun dan lembut. Mungkin karena kerudung yang sekarang melekat manis di tubuhnya.
            “Haduh kalian temu rindu ya? Pacarannya sengaja ya jauh-jauh dari kita?” goda Agil pada kami berdua.
            “Ih, apaan sih, Gil? Mana gue tau sih Jupri pake ngedeket ke arah gue,” ucapnya asal menyingkat nama saya seenaknya. “Jupri, lo kok diem aja sih? jelasin dong kalau kita gak ada apa-apa. Heran deh kenapa sih kita dari jaman SMA sampe sekarang masih aja digosipin,” tambahnya lagi.
            Rasanya ingin sekali menjitak kepalanya, gemas. Kenapa harus saya yang mejawab? Kenapa tak ia tanyakan saja pada hatinya yang dulu jatuh kepada saya? Memangnya dulu saya jatuh hati padanya? Jangan harap! Mana mungkin saya jatuh hati pada gadis manja yang sukanya ngomel-ngomel dan marah-marah tak jelas pada saya.
            “Au nih si Agil ada-ada saja deh! Kan udah gue bilang kalau si Sukun jadi istri gue udah gue talak lima lah!” ucap saya menimpali perkataannya.
Saya terbiasa memanggilnya Sukun kalau ia memanggil saya Jupri. Padahal tak ada satupun huruf di namanya yang terbaca ‘Sukun’. Namanya Clarisa Humairah. 
“Ye, emang siapa yang bilang lo berdua nikah? Gue bilangnya lo berdua pacaran. Wah, lo kebelet nikah ya sama Aira?” kata Agil kembali mengoda.
Ia hanya membalas perkataan Agil dengan mata sinisnya.
“Udah ah udah, gue takut lah sama kalian berdua. Hahaha. Anak-anak yang lain udah pada mau cari makan nih. Lo berdua mau di sini aja atau gimana?’ tanya Agil setengah mengancam. Bagaimanapun juga yang punya mobil kan Agil. Yang membuat saya dan 3 orang teman  lainnya sampai sini kan juga si Agil.
Kami berlima kemudian makan di sebuah saung ikan bakar dekat patai. Saya memandangnya lagi. Terlalu banyak yang berubah, tak ada lagi gaya makan menggunakan tangan yang diakhiri jilatan-jilatan di semua jarinya. Bagaimana mungkin saya bisa lupa, hal itu. Ketika ia dengan gamangnya berkata ‘Cara makan yang paling nikmat tuh yang begini!”. Kini ia terlihat lebih kemayu, menggunakan sepasang garpu dan sendok. Membuka satu persatu daging ikan gurame yang terselip duri.
“Eh, Aira pacar lo sekarang siapa?” tanya Windi tiba-tiba.
Ia yang sedari tadi fokus pada piring makannya, memandang ke arah Wendi. Ia menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Windi. Membuat hati ini ikut bergetar. Benarkah ia telah sepenuhnya mencuri hati saya?
“Sempet deket lebih dari tiga tahun sama teman di kampus. Terus tiba-tiba gue ditinggal nikah deh. Hahaha. Lucu ya,” tawanya pecah.
Tawa khas yang selalu ia keluarkan saat sedang mentertawakan dirinya sendiri. Mungkin ini, satu-satunya yang belum berubah darinya. Mungkin ini adalah satu-satunya yang membuat saya ingin terus menjaganya. Agar ia tak tersakiti lagi. Oleh siapapun itu, termasuk saya dulu, yang membiarkannya menyatakan perasaannya tanpa jawaban dari saya.
“Eh, ada HP yang getar nih. Punya siapa tuh?” tanya Amel yang duduk di sebelah saya.
Saya kemudian mengeluarkan hp dari saku celana. Memeriksa sebentar nama dilayar HP yang terpampang. Ragu, saya memencet tombol hijau dan berjalan sedikit menjauh.
“Halo? Iya ini Zul juga lagi sama teman-teman SMA. Pulangnya sedikit malam tidak apa-apa ya? Apa? Oleh-oleh? Boleh, boleh, kamu mau dibawain apa? Oh, oke gampang. Si Kakak sudah pulang sekolah belum?” ucap saya masih bercakap dengan seseoarang di sana. Seseorang yang sangat membutuhkan tanggung jawab saya. Hampir 20 menit saya menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang itu, kemudian saya menutup telepon.

Hanya ini, hanya ini yang saya lakukan demi Aira yang tanpa sadar telah saya cintai sedari dulu. Menjauh. Saya tak ingin membuatnya menertawakan dirinya sekali lagi. Cukup kali itu, saat ia menyatakan perasaannya pada saya, saat Gita menyatakan bahwa ia telah mengandung anak saya. Maafkan saya, Aira, mungkin definisi jatuh hati padamu bagi saya adalah menjauh darimu.