Pikiranku larut
dalam sebuah masa lalu ketika sebuah kabar datang. Bagai bubuk gula yang larut
dalam air mendidih. Terurai satu persatu, menjadi bagian-bagian kecil,
menimbulkan rasa manis pekat. Kali ini mungkin rasa pahit pekat.
Aku mencintaimu
dengan tulus. Namun, mungkin kamu tak akan pernah tau hal itu. Aku tahu, aku
salah karena tak pernah mengakui hal itu padamu. Tapi kau tahu kan? Usia kita
yang berbeda jauh, kamu yang lebih tua, membuatku enggan menyatakan betapa aku
mencintaimu. Egoku yang tinggi membuatku enggan untuk mengakui isi hatiku.
Kini aku
belajar dari sebuah kesalahan. Kesalahan karena tak pernah menanggapi cintamu
yang begitu besar. Selalu mengganggapmu sepele, bahkan
menyakitkan hatimu dengan makianku. Padahal dulu yang kurasa adalah nyata cinta padamu. Sungguh
aku minta maaf. Sungguh, aku tak pernah bermaksud menyakiti hatimu. Demi Tuhan,
aku mencintaimu.
Aku kini telah
menjalin hubungan dengannya, orang yang selama beberapa bulan ini telah mengisi
hari-hariku. Namun yang harus kamu tahu, hatiku tak pernah bisa berpaling
darimu. Kamu wanita pertama yang aku cintai di dunia ini. Tidak akan pernah berubah!
Maafkan aku
karena telah meninggalkanmu. Maafkan aku melupakanmu, namun ternyata aku salah.
Aku tak bisa melupakankanmu, aku hanya bisa berhenti sejenak memikirkanmu. Buktinya
pikiranku kalut mendengar kabar tentangmu. Maafkan aku karena dulu aku tak
pernah menyadari cintamu. Maaf karena dulu aku tak pernah menanggapi kasih
sayangmu dengan serius. Maafkan aku karena aku tak pernah menyadari betapa aku
sangat mencintaimu.
Sekarang yang
hanya bisa kulakukan adalah belajar dari kesalahan. Belajar dari bagaimana
sikapku dulu ketika bersamamu. Aku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang
sama seperti saat aku bersamamu. Aku kini berusaha memberanikan diri menyatakan
perasaanku, tak membentaknya, menghormatinya, menyayanginya, melindunginya,
selayaknya lelaki gentleman.


Tidak menyadari
perasaanku dulu saat bersamamu, membuatku kini belajar untuk berubah. Aku tak
ingin seperti kisah yang dulu bersamamu. Berakhir tanpa sebuah pernyataan
cintaku padamu. Ah, air mata ini masih sering keluar ketika mengingat
kebersamaan kita dulu. Aku mencintaimu.
“Bang, katanya
abang mau mengenalkan Irma ke orang tua Abang? Rumah Abang memannya dimana? Kenapa
jalan ini begitu kecil, berkelok-kelok dan sangat sepi. Irma tak melihat
satupun rumah penduduk di sini, ” tanyanya membuyarkan lamunanku.
Untungnya ada
Pak Burhan yang mengendarai mobil. Kalau tidak mungkin sudah terjadi
kecelakaan, karena aku terlalu banyak mengenangmu. Hey, aku kembali. Kembali ke
tempat dulu kita sering bersama.
“Iya, Ma. Rumah
Abang sudah lewat tadi. Kamu mau bertemu dengan orang tua abang kan?”
“Iya bang. Abang
kenapa sih? merenung terus? Hari ini abang aneh. Padahal dulu kalau Irma minta
bertemu orang tua abang, abang pasti menolak. Hari ini tiba-tiba abang mengajak
Irma bertemu orang tua abang. Ada apa sebenarnya bang?”
Pertanyaannya begitu
sederhana namun mampu menyentakkan pikiran. Menyadarkan kesalahanku padamu. Keegoisanku,
membuatku menjauh darimu. Mencampakkan perasaanmu, membuang jauh-jauh perasaan
cinta yang aku punya padamu.
“Abang juga
tak tau, Ma. Abang juga ingin menyaksikannya sendiri,” jawabku singkat.
“Apa yang
disaksikan bang?”
Pertanyaannya tak kupedulikan. Aku kembali mengingat masa lalu saat bersamamu. Sungguh aku
sangat merindukanmu. ‘Aku mencintaimu’,
kata-kata itu yang sangat sulit kuucapkan. ‘Aku
membencimu. Kau terlalu ikut campur! Dasar Wanita tua!’ kata-kata itu yang
mampu kuucapkan padamu.
Air mataku
pecah, ketika Burhan berhenti dipersimpangan jalan. Di kiri jalan berdiri tegak
bunga kamboja pada hampir semua pusara. Diantaranya, terdapat tanah gembur
tempat pusaramu. Kelopak Berbagai macam bunga, khususnya melati dan mawar masih
bertebaran di sekitar pusara, meninggalkan jejak bahwa pusara itu baru ada di
sana.
Aku menggigit
keras bibirku, menghilangkan rasa getir yang menyerang hatiku. Sesak dan sakit.
Ya, kamu telah tiada tanpa pernah aku menyatakan cinta padamu.
“Abang? Ini
makam siapa?”tanyanya yang tak pernah tau apa-apa tentang dirimu.
“Ini makam Ibu
ku, Ma. Minggu lalu ia meninggal dan aku baru tau hari ini…” kataku tak mampu
melanjutkan kata-kata
Ibu, maafkan
aku. Maafkan aku karena selalu membangkang. Aku mencintaimu, bu. Ibu maaf aku
tak pernah mempedulikanmu. bahkan aku mencampakkanmu. Meninggalkanmu sendiri
hingga hanya pusaramu yang dapat kulihat sekarang.
