Rina memasuki kamarnya dengan terburu-buru, malas mendengar nasehat dari ibunya. Nasehat sederhana, yang lama-lama membuat Rina bosan juga dibicarakan terus-menerus. Nasehat agar Rina segera menikah, setiap ditelepon atau setiap Rina pulang ke rumah hal itu terus yang dibicarakan oleh ibunya. Maklumlah Rina sudah menginjak usia 25 tahun tapi belum pernah satu pun lelaki yang Rina ajak ke rumah. Apalagi Rina anak semata wayangnya.
Rina membuka lemari kamarnya yang tak pernah ia buka lagi. Sekian detik kemudian barang-barang dalam lemari berhamburan. Semenjak diterima kerja di Lampung Rina tak pernah mengotak-atik kamarnya, apalagi ia jarang pulang ke rumahnya di bilangan Jakarta.
Rina menemukan sekotak kardus kecil, bertuliskan L’il thing. Seketika itu juga ia tersenyum-tersenyum sendiri mengenang masa lalunya. Saat ia jatuh hati dengan seorang adik kelasnya yang berbeda tiga angkatan tapi sebenarnya hanya berbeda satu tahun. Adik kelasnya terlambat masuk sekolah dua tahun. Shendy, nama adik kelasnya itu.
Pertemuan pertama dengan Shendy itu sekitar tiga tahun yang lalu, saat Rina jadi komisi disiplin ditingkat akhir perkuliahannya. Shendy sangat bandel. Selalu membangkang, hal ini yang selalu membuat Rina emosi setiap harus berurusan dengan shendy.
Namanya juga wanita, kesal dengan Shendy itu lantas membuatnya jadi penasaran. Berawal dari penasaran, dekat dan akhirnya Rina jatuh hati dengan Shendy. Sayangnya Rina tak berani mengungkapkan perasaanya. lagipula masa Rina jatuh hati dengan lelaki yang terpaut tiga angkatan dengannya. Apa kata dunia nanti?
Tanpa sepengetahuan Rina sebenarnya Shendy juga memiliki perasaan yang sama dengan Rina. Sayangnya Shendy sendiri malu menggungkapkan perasaan yang ia miliki. Sudah jadi cerita di keluarga besarnya, bahwa masalah hati dan masalah pernikahan semuanya dilakukan dengan cara ta’aruf. Tak mau terbawa perasaan Shendy berusaha melupakan Rina.
Rina membuka kotak kardus itu, ia menemukan sebuah boneka kelinci kecil hadiah pemberian dari Shendy saat Rina lulus kuliah. Rina tersenyum-tersenyum sendiri, saat meremas perut boneka itu. Akan muncul suara ‘Namaku Shendy, hubungi aku ya kalau rindu. Telepon aku di 085869103941’. Seperti terhipnotis Rina memencet nomor yang disuarakan boneka kelinci itu.
Tak beberapa lama muncul suara berat. Suara yang telah lama tak pernah Rina dengar. Ada rasa rindu yang menyeruak.
“Assalamualaikum? Halo?”
“Eh, wa’alaikumsalam,” balas Rina canggung.
“Ini siapa?” tanya Shendy.
“Rina,”
“Rina mana?” pertanyaan Shendy cukup membuat Rina kelu.
“Rina komdis,” ceplos Rina tanpa sadar.
“Mbak Rina yang ayu itu toh?”
Rina tersipu malu mendengar perkataan Shendy. Untungnya Shendy tidak bisa melihat muka Rina yang sudah memerah.
“Iya,”
“Wah, piye toh mbak, kabare?
“Baik, kamu?”
“Sama, mbak. Ada apa toh mbak telepon aku?”
“Enggak, ada apa-apa sih. cuma aku mau tanyain tentang ta’aruf. Aku kayaknya sekarang sudah siap untuk menikah deh,” ucap Rina asal yang beberapa detik kemudian diruntuknya sendiri. Ah, ini pasti karena ibunya yang terus memaksa agar Rina segera menikah.
“HAHAHAHAHAHAHAHA,” tawa Shendy pecah seketika menutupi rasa syoknya. Walaupun sudah berlalu hampir dua tahun tapi Shendy masih memiliki perasaan pada Rina. Mendengar suara Rina saja ia sudah syok sekarang mendengar Rina sudah siap menikah.
“Ih, kok diketawain sih? Jahat banget kamu,”
“Abis, si mbaknya. Ora ada kabare tiba-tiba sekarang sampun pingin nikah,”
“Hah, sudah disuruh ibu nih. Eh, kamu jangan pakai bahasa Jawa toh, ora ngerti aku. Hahaha,”
“Hahaha, cie yang sudah mau nikah. Memangnya kenapa kamu mau ta’aruf? Memangnya cari sendiri ora bisa?”
“Shendy! Bawel ih. Biarin aja. Aku males nyari-nyari lagi. Kamu punya kenalan guru ngaji yang bisa ta’aruf-in aku kan?”
“Maaf, toh mbak. Bercanda. Memangnya calon suami yang seperti apa toh yang mbak mau?”
“Yang gimana ya? Yang soleh, enggak ngerokok, sayang keluarga, bisa mendekatkan aku ke Tuhan, yang bisa bawa aku, dia dan anak-anakku nanti pergi haji, yang terpenting mau berusaha keras. Apalagi ya? Segitu ajalah,”
“Oh, gitu toh mbak? Yang usianya berapa mbak?”
“Yang maksimal beda 7 tahun lah sama aku kayaknya,”
“Oh, gitu toh jadi yang anak SMA juga mau?”
“Ih, Kusen! Ya enggak lah. Yang bedanya tujuh tahun ke atas bukan ke bawah. Dikira aku pedofil apa?”
“Hahaha, dikirain toh mbak. Memangnya mbak kelebihannya apa sampai mau ta’aruf-an segala?”
“Aku? Aku mah punyanya banyak kekuranggan. Yang pasti nanti yang nikah sama aku akan bersyukur karena bisa belajar punya istri yang yang bandel, jadi dia bisa mengajari aku supaya jadi istri yang solehah, hahaha”
“His, kasian yang jadi suami kamu nanti. Yowess kamu buat CV aja dulu. Nanti aku tanya guru ngaji aku dulu,”
“CV-nya seperti apa?”
“Yowess nanti aku kirim email ke kamu. Kamu sekarang lagi dimana toh mbak?”
“Di rumah. Kenapa?”
“Ya enggak apa-apa siapa tau langsung ada yang cocok sama mbak. Alamat rumah mbak dimana?”
“Loh buat apa?"
“Aduh, si mbak. Gini toh mbak. Siapa tau ada yang langsung cocok dengan CV mbak. Ya langsung ke rumah mbak lah, kenalan sama mbak. Ngelamar mbak toh,”
“Oh, gitu ya. Yaudah nanti aku sms alamat rumah aku,”
“Yowess mbak. Semoga sukses. Wasalamuaikum,”
Belum sempat Rina membalas. Telepon sudah dimatikan. Rina tidak tau apa yang barusan ia lakukan. Sebenarnya Rina hanya ingin mengobrol dengan Shendy, melepas rindu yang lama ia pendam. Bukan lantas membicarakan masalah pernikahan. Sekarang apa yang harus Rina lakukan? Memangnya Rina sudah siap untuk melupakan Shendy?
Beberapa puluh menit kemudian ada email masuk. Rina yakin itu dari Shendy. Dugaan Rina benar, itu salah satu contoh CV tentang ta’aruf. Terdiri dari beberapa lembar. Rina tertawa-tawa sendiri membaca contoh CV yang kebetulan punya Shendy. Rina segera mengubahnya dengan CV tentangnya dan mengirim kek Shendy lagi
***
“Rina, ibu masuk ya,” kata ibu Rina sambil mengeti pintu.
Rina yang baru saja selesai berganti baju setelah mandi, kebingungan ibunya menjumpai kamarnya. Biasanya ibunya jarang mendatangi kamarnya.
“Ada apa bu?” tanya Rina kebingungan.
“Ada tamu, nak. Mencari kamu,”
“Siapa, bu?” tanya Rina penasaran.
“Ibu kurang tau, tapi mereka bilang ingin membicarakn hal penting,”
“Hah? Hal penting apa bu?”
“Aduh, ibu kurang tau. Tapi sepertinya kamu sangat mengetahui hal itu. Cepat keluar ya setelah beberes,”
“Iya, bu,” jawab Rina, kemuadian ibunya segera keluar dari kamar Rina.
Rina mengambil hape-nya. Ada sebuah pesang singkat masuk. Dari Shendy.
|Mbak, ada yang tertarik dengan CV yang mbak buat. Pagi ini beliau mau datang. Siap-siap ya. :) semoga jodoh|
Rina terbengong-bengong sendiri membaca sms dari Shendy. Ini pasti ada hubungannya dengan yang ibu bicarakan sebelumnya, jangan bilang orangnya sudah sampai. Kok cepat sekali sih? padahal baru tiga hari yang lalu Rina membicarakan masalah ta’aruf dengan Shendy, kenapa sekarang orangnya sudah ada? ‘Mampus nih!’ keluh Rina dalam hati.
Rina segera menuruni tangga menuju ruang tamu. Betapa syoknya Rina melihat Shendy, seorang ibu-ibu, dan dua orang bapak-bapak serta kedua orang tuanya. Jangan bilang yang mau sama Rina adalah salah seorang bapak-bapak ini.
“Jadi gimana, Rin? Kamu mau menikah dengan dia? Kalau ayah sih menyerahkan semua keputusannya sama kamu,” ucap ayah Rina tiba-tiba.
Ditanya seperti itu Rina hanya kebingungan. Dengan siapa? Yang mana? Yang mana yang ingin menikah dengannya? Rina berusaha mencari penjelasan dari Shendy. Nihil, Shendy hanya menundukkan wajahnya.
“Iya, nak. Ibu juga menyerah kan sepenuhnya ke kamu,” tambah ibu.
Rina hanya bisa terdiam. Berharap semua ini hanya mimpi.
“Wah, mungkin adik masih binggung ya? Saya Kholid guru Dik Shendy, ini ibunya Dik Shendy dan bapaknya Dik Shendy. Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Adik Rina. Perihal menyetujui ingin menikah secara ta’aruf. Apa kah Adik Rina bersedia menikah dengan Dik Shendy?” ucap Pak Kholid menengahi.
Rina baru mengerti situasi apa yang sekarang terjadi. Ada rasa lega menyadari bukan salah satu dari dua bapak-bapak ini yang akan menjadi calon suaminya. Tapi kenapa jadi Shendy yang melamarnya. Pantas sedari tadi wajahnya metunduk terus.
“Jadi yang mau menikah dengan saya, Shendy? Kenapa?”
“Karena aku sudah sayang sama kamu dari dulu, Rin. Tapi aku tidak ingin melangkahi kedua orang tuamu. Apalagi aku lebih muda dari kamu. Karena itu hari ini bermaksud melamarmu. Aku bersedia menerima semua CV tentang kamu. Apa CV-ku yang beberapa hari yang lalu bisa kamu terima, Rin?”
Ada rona merah yang timbul di pipi Rina. Anggukan setuju tanpa ucapan menjadi bukti bahwa Rina mencintai Shendy.
“Bu, Pak sekali lagi saya ucapkan, boleh kah saya melamar Rina menjadi istri saya?”
***
Note:
*based true story from my bestfriend...
*sengaja nama Shendy-nya gak disamarkan. :p
*salam buat dedek bayinya ya, ben..