Rabu, 26 Desember 2012

HUJAN


Ara mengelus-elus rambutnya yang basah terkena rintik hujan. Ara lupa membaya payung, untungnya hanya hujan kecil. Tas ranselnya penuh muatan dan Ara masih harus menggenggam plastik belanjaan berisi camilan dan minuman ringan. Hari ini Ara akan pulang ke rumah, menyambut libur tahun baru bersama keluarga setelah hampir dua bulan ia tak pulang. Ara sebenarnya enggan pulang ke rumah, enggan menghadapi kenyataan bahwa kini ia tak lagi bersama Satria-pacarnya dulu.



Empat tahun bersama Satria dalam suka dan duka, bukanlah hal yang sepele. Namun melihat Satria menggenggam manis Nina-sahabat dekat Ara, bukanlah hal yang sepele juga. Satria kemudian lebih memilih Nina tanpa persetujuan Ara terlebih dahulu. Kini kembali ke rumahnya, kembali ke kota tempat tinggal Satria dan Nina tentunya hanya membuka luka lama.
Angkot coklat kemudian memperlambat gerakannya. Menurunkan dua orang penumpang di dekat tempat Ara berdiri. Hujan kemudian mulai melebat. Tak ingin berlama-lama dalam kekalutan, Ara segera masuk ke dalam angkot tersebut. Duduk di samping kanan pintu angkot. Mata Ara menyapu seluruh bagian Angkot. Ara biasa melakukan ini, entah untuk antisipasi atau untuk melupakan sesuatu.
Penumpang di dalam Angkot cukup sepi. Hanya ada 3 orang penumpang tanpa Ara. Satu di depan bersama pak supir, satu duduk di sebelahnya dan satu lagi duduk berhadapan dengan Ara. Mata Ara terpaku pada sosok di depanya. Seorang pria bermata coklat, berambut ikal sebahu, memakai kaus oblong berwarna putih, celana pendek selutut dan satu tas ransel berisi penuh. Nampaknya pria ini juga seorang mahasiswa di perguruan tinggi tempat Ara kuliah.
Satu persatu penumpang turun.
“Kiri, pak!”ucap pria yang sedari tadi Ara curi pandang. Ara mengalihkan pandangannya, seolah tak peduli.
Bunyi benda jatuh bersentuhan dengan tempat duduk kayu di depan pintu angkot. Mata Ara segera menyelusuri dari mana asal suara tersebut. Sebuah payung bewarna coklat terjatuh. Kemungkinan besar adalah milik pria bermat coklat tadi. Ara akan segera berteriak ketika menyadari pria itu sudah tak ada.
Tiga menit setelahnya angkot yang Ara tumpangi berhenti. Ara turun di pertigaan dekat dengan gerbang tol menuju rumahnya. Ara segera membayar ongkos dan segera berlari menuju halte, menunggu bus tiba, menunggu hujan mereda.
“Neng, payungnya!” ujar supir angkot setengah berjerit.
“Bukan punya saya pak,” jawab Ara jujur.
“Bawa saja, Neng. Ini hujan deras,” ucap supir angkot, mengambil payung yang masih terletak manis di kursi kayu dekat pintu.
Ara menerimanya setengah terpaksa. Bagaimana nanti sang pemilik mencarinya? Tapi jika tidak Ara bawa kemungkian besar tas ransel berisi laptop dan beberapa buku pelajaran yang ia bawa akan basah.

*
            Turun dari angkot berwarna hijau, Daru baru sadar payungnya tertinggal entah dimana. Sepertinya saat Daru mendengar samar suara sesuatu berdebum dengan kayu. Daru terpaksa menembus hujan deras, menyebrang jalan untuk sampai di pemberhentian bis yang ia biasa gunakan untuk pulang. sudah bis ketiga yang sejalan dengan tempat tinggalnya lewat tapi selalu penuh. Baru dibus yang ke empat Daru berhasil duduk dengan nyaman. Tentunya dengan melupakan pakaiannya yang basah kuyup. Ia setengah kedinginan dan meruntukin kebodohannya menghilangkan payung.
Daru terdiam beku melihat hujan yang semakin menderas dari balik kaca bis yang sudah berjalan. Daru benci hujan, tapi juga mencintai hujan. Daru benci hujan yang membunuh Kirana tunangannya.

Trotoar Ambles akibat Saluran Mampat di Jalan Wijaya II

Daru memejamkan matanya berusaha untuk tidur, berusaha untuk melupakan masa lalunya. Nihil, bayangan-bayangan tentang Kirana muncul kembali. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian tragis tahun itu?
*
Ara terpaksa jalan kaki menuju tempat khusus untuk pemberhentian bis yang ia biasa tumpangin. Percuma menunggu di halte hampir lebih dari 15 menit. Tak ada bangku kosong di sana, orang-orang sudah merapat penuh, untuk sekedar meneduh di halte.
Udara dingin disertai hujan menerpa tajam Ara. Payung bahkan sudah tak dapat melindunginya lagi. Satu demi satu hujan memulai membasahi pundaknya yang tak tertutup payung. Ara masih berusaha keras menuju tempat pemberhentian. Tidak ada satupun bis jurusan yang searah rumahnya yang mau berhenti. Wajarlah tempat pemberhentian bus yang resmi hanya di halte dan pemberhentian khusus.


Ara berhasil mendapatkan tempat duduk di bangku khusus perokok. Ada rasa syukur dan jengah bersatu-satu, takut-takut ada yang merokok di depannya. Mata Ara mendelik mecari pria pemilik paying yang ia gunakan. Mungkin saja pria itu menaiki bus ini juga kan? Sepertinya percuma, apa yang bisa Ara lakukan jika ia duduk di bangku paling belakang bis?
Ara kembali mengenang Satria. Hah, lelah kadang setelah setengah percaya Satria sudah tidak ada di hatinya, namun lengah sedikit ternyata Satria masih ada. Ara bisa saja memaksa Satria untuk tidak mencampakannya. Namun satu kelakukan Satria yang membuat Ara memutuskan menyerah.
Kelakuan Satria yang tidak mau mengalah dan tidak mau disalahkan. Kejadian kala hujan itu, saat peertengkaran antara Satria dan Ara terjadi. Satria tak memperhatikan kemudi mobilnya. Satria menabrak seorang gadis. Satria kemudian kabur, tanpa memedulikan sang korban. Ara sangat benci sifat Satria yang satu ini.
*
            Daru terbangun. Ia sudah sampai di terminal Lebak Bulus. Sebagian besar penumpang sudah turun di Pasar Rebo tadi. Hujan masih deras mengguyur. Daru segera bergegas menerabas hujan.
*
            Ara terdiam sebentar seperti mengenali pria yang berdiri di depannya, menunggu giliran turun. Pria itu kemudian tergesa-gesa turun menerabas hujan deras. Ara menyadari sesuatu. Pria itu pemilik payung yang ia gunakan.
*
            Aneh, derasnya hujan tak lagi menusuk sisi kulit Daru. Daru mendelik saat meyadari sudah ada seorang gadis dibelakangnya. Memayunginya. Gadis itu basah kuyup.
            “Maaf, ini payungnya ketinggalan,” ucap gadis itu, setengah menggigil.
Daru terdiam kelu. Mengingat-ingat pertemuannya dengan Kirana dulu. Saat hujan deras mengguyur. Saat Daru tak membawa payung. Saat Daru mencekal habis-habisan karena ia ditunangkan dengan gadis yang tak dikenalnya, Kirana. 
Kami Mengharap Hujan Basahi Bumi (1)

*
            Dua mata saling bertemu. Memberi sebuah telepati yang hanya dimengerti oleh kedua pihak. Menimbulkan rona merah. Membakar dinginnya hujan malam. Sayangnya ini bukan cerita picisan. Ini kehidupan!  Entah Ara akan jatuh cinta dengan Daru, entah Daru akan bisa melupakan Kirana atau pertemuan ini akan berlalu begitu saja. Tidak akan ada yang pernah tau. Aelayaknya siklus hujan yang kadang menderas dan kadang menepi. Hanya hujan yang tau bagaimana kisah keduanya.