“Ih, lonte ngapain sih
ke sini? Gak ada makanan tau! Hus, sana
pergi!” usir kasar wanita di depanku. Di sampingnya duduk beberapa wanita
lainnya yang kusangka adalah temannya. Wujudnya masih muda belia, manis dan
juga cantik, tapi jangan tanya mengapa aku memanggilnya wanita, karena jelas aku
tidak tahu apakah dia masih gadis atau sudah tidak. Aku tidak mengerti dengan
pemikiran wanita itu, memangnya jika aku mendekat, aku akan meminta makan
padanya? Mana sudi aku meminta makan pada wanita seperti itu! dari pada harus
muntah, cepat – cepat ku ayunkan kaki ku menuju tempah makanan utama ku. Tempah
sampah.
Apa?
kalian juga ingin mencela ku? Lonte? Pelacur? Jablay? Apa lagi? Perek? Seperti wanita
tadi? Kalian tau apa sih tentang aku? Aku merasa terhina dengan panggilang
kalian? Jelas! Aku merasa sedih? Tentu tidak! Aku bukan manusia seperti kalian,
yang menjadikan ku sebagai objek celaan kalian tanpa menyadari apa saja yang
telah kalian perbuat? Hanya satu pertanyaan ku! Apa kalian masih perawan tanpa
pernah tersentuh oleh lelaki? coba tolong jelas kan ke pada ku?
Aku
mengais - ngais tong sampah berusaha mencari sesonggok makan yang tersisa,
untuk mengisi perutku dan mensuplai makanan ke janin yang ada di rahimku. Perutku
semakin besar dan itu yang aku rasa, mengapa kalian selalu menyebutku dengan
kata – kata kasar seperti itu. Seseorang tiba – tiba mengelusku pelan, dari
arah belakang, menimbulkan kesan nyaman di tengkuk ku. Aku berbalik
memandangnya, seseorang lelaki. dia tersenyum kepadaku dan kembali mengelus –
ngelus tengkuk ku dan kini jarinya berjalan menuju pangkal leherku, menimbulkan
sesuatu yang sulit untukku katakan.
“Ih,
Rama! Ngapain sih lo pake ngelus – ngelus si lonte itu? kan kotor tau! Kata
seseorang yang tadi duduk disamping wanita yang memanggilku lonte.
“Hah?
Lonte? Lonte itu bukannya jablay ya? Kok gitu sih, Rat? Emang dia punya berapa
pacar, eh suami deh maksud gue, sampe lo manggil dia lonte? “ tanya lelaki yang
sedari tadi mengelusku. Aku hanya diam berusaha sepolos mungkin karena aku tau,
seberapa banyak pun aku berbicara tentang kenyataan, wanita itu tidak akan
pernah mau mendengarkan ku.
“Hahahaha,
abis kerjaannya hamil terus, udah gitu anaknya entah kemana? Di aborsi kali ya,
hahahaha.” Ucap wanita itu sambil tertawa seolah di sini hatinya tidak akan ada
yang terluka.
“Ih,
lo bisa aja. Gak apa – apalah, nanti gue cuci tangan. Yang bikin gue pengen
ngelus dia ya emang perutnya ini,” ucap lelaki itu kali ini mengelus perutku,
sedikt menenangkan pikiranku.
Tau
apa wanita itu tentang aku? Aku lonte? Aku
atau mereka yang lonte? Aku tidak pernah sekalipun meninggalkan pasanganku. Aku
tidak pernah sedetik pun melirik yang lain. Memangnya apa bedanya aku dengan
mereka di luar sana? Memangnya salah kalau aku hamil? Memangnya kalian yang
dengan mudah bisa mencari kondom atau pil KB di berbagai toko atau puskemas! Kalau
aku bisa sudah dulu aku lakukan! Biar tak perlu aku bersusah payah membawa
janin ini. Sayangnya aku tidak punya uang dan di sini mana ada yang menjual
barang seperti itu.
‘Aku aborsi?’berusaha
mengingat kata – kata yang wanita tadi lontarkan. Aku atau dia yang pernah
melakukan aborsi? Memangnya ada yang seperti itu di sini? Asal kalian tau ya,
aku melahirkan semua janin – janin yang ada dirahimku, hanya saja terkadang
usianya tidak lama. Dan memangnya salah melakukan hubungan dengan pasangan
sendiri? Aku memang seolah – olah tidak punya pasangan, karena pasangannku
memang jarang beredar mencari makanan. Apa pasanganku itu melakukan hal yang
salah?
Aku menghela nafas,
tidak ingin berurusan lagi dengan kedua orang itu. aku melanjutkan aktivitaku
mencari makan di tong sampah. Aku sudah tidka peduli lagi dengan celaan –celaan
atau panggilan yang kalian berikan. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa,
se-lonte apa pun aku, setidaknya aku memilih berhubungan dan setia hanya dengan
pasangaku. Dan aku tidak pernah sedikit pun berganti pasangan seperti kalian. Sayangnya
sampai kapan pun kalian tidak akan pernah tau pikiraku ini karena aku hanya
kucing di gedung 4.

